Feature

Silan: Akhirnya Aku Bisa Kembali Sekolah

Di Dusun Gempol Egi, Desa Bulang, Kecamatan Prambon lah ia tinggal. Sejak ayah dan ibunya memutuskan berpisah, saat itu lah ia mulai kehilangan harapan. Meski ibunya telah menikah lagi, namun tak membuatnya merasakan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya.

Tumbuh dan besar di lingkungan keluarga broken home, tidaklah mudah. Tak hanya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya, Nur Silan pun harus merelakan impiannya terlepas dari genggamannya.

Lantaran ayah tirinya tak memiliki pekerjaan tetap, Silan terpaksa merasakan putus sekolah. Dengan berat hati, ia harus meninggalkan cita-citanya menjadi tentara, di bangku sekolah dasar. Keterbatasan ekomoni membuat langkahnya terhenti di kelas 1 SD. Sejak lima tahun lalu, ia tak lagi merasakan dunia pendidikan.

Tak diperhatikan oleh sang ayah, tak lantas menjadikannya putus asa dalam menjalani hidup ini. Silan pun memilih tinggal bersama kakek dan ibu kandungnya. Di rumah sepetak, berukuran 5X3 meter, di sana lah ia menghabiskan waktunya, sembari berharap bisa kembali sekolah bersama teman-temannya.

Melihat sang kakek yang hanya bekerja sebagai juru kunci makan, dan sang ibu yang menjadi buruh kupas bawang, membuat Silan memendam harapannya. Bisa kembali belajar di sekolah pun, akhirnya hanya sekadar menjadi angan yang menemaninya di gubuk kecilnya.

“Aku pingin sekolah, tapi tidak ada biaya. Bisa makan saja, sudah alhamdulillah,” tuturnya, saat ditemui Tim Pendayagunaan LAZ DAU.

Penghasilan yang tak tentu, membuat Silan memendam keinginannya. Tak sampai hati bila ia harus merengek kepada kakeknya yang sudah berusia 67 tahun. Rp 200 ribu setiap bulan yang didapatkan dari juru kunci makam, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Sementara penghasilan sang ibu sebagai buruh kupas bawang pun tak banyak, sekitar Rp 20 ribu per hari. Melihat kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, Silan hanya mampu berdoa dan memohon kepada Allah. Dari dalam gubuk mungilnya yang berdinding gedek dan beralaskan tahan, ia hanya meminta kepada Sang Pencipta, agar memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya untuk meraskan dunia pendidikan.

Doa tulus Silan pun didengar oleh Allah, Selasa lalu (08/08), Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU) berkunjung ke rumahnya. Bersama beberapa perangkat desa, pejabat UPT Pendidikan, Dinas Sosial, dan bagian Kesejahteraan Rakyat Pemda Sidoarjo, LAZ DAU sepakat, Silan harus melanjutkan pendidikannya.

“Akhirnya aku bisa kembali sekolah,” kata anak laki-laki kelahiran Sidoarjo ini.

Pagi itu juga, Silan diajak kembali ke sekolah, SDN Bulang. Sudah lima tahun berlalu, sejak ia meninggalkan teman-temannya belajar di sana, ia pun terlihat canggung dan sedikit bingung. Bantinya, mampukah ia mengejar ketinggalannya, teman-teman seusianya sudah duduk di bangku kelas 6 dan bersiap menghadapi ujian, sementara dirinya baru akan kembali memulai belajar.

Melihat semangat dan kecerdasan Silan, UPT Pendidikan menyarankan, agar Silan mengikuti Kejar Paket A, untuk mengejar ketinggalannya. Sementara itu, LAZ DAU akan memberikan bantuan  biaya pendidikan kepada Silan, berupa beasiswa anak prestasi sampai ia tamat SMA, melalui Program Senyum Masa Depan (SMP).

“Rencanaya Silan akan kita asuh di Panti Asuhan Istiqomah, yang dinaungi langsung oleh LAZ DAU. Tapi semua itu tetap melalui persetujuan keluarga. Kalau kakeknya sudah setuju, tinggal menunggu persetujuan ibunya. Jika Silan berasrama di panti, maka ia akan mendapatkan beasiswa penuh dari LAZ DAU,” terang Fadlan Ali Rosyidin, Staf Pendayagunaan LAZ DAU.

naskah: ayumungil | foto: fadlan

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *