Feature

Terpaksa Sendiri, di Usia 71 Tahun

Rambutnya tampak memutih. Goresan kulit keriputnya pun, terukir jelas di bagian tubuhnya. Ingatannya yang mulai melemah tergerus sang waktu, membuatnya tak berdaya. Nenek berusia 71 ini, terpaksa menghabiskan hari tuanya seorang diri.

Mbah Kasiah, begitulah masyarakat sekitar menyapanya. Nasibnya yang tak beruntung, membuatnya hidup sebatang kara di gubuk kecilnya. Memang tak mudah, menjalani hari-hari tanpa seorang teman, terlebih di usia senja. Namun keterbatasan itu, tak membuatnya menyerah.

Semangat hidupnya jelas terpancar dari raut wajahnya, ketika menemui Tim Pendayagunaan Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU), yang sedang berkunjung. Tak terlihat sedikit pun beban di pundaknya, hanyalah keikhlasan yang terdengar di setiap canda tawanya.

Ia tak pernah menyalahkan siapapun atas kondisinya sekarang. Menghabiskan hari tua tanpa anak cucu, mungkin menjadi momok bagi kebanyakan orang, tapi tidak untuk Kasiah. Dia sangat bersyukur dengan kondisinya yang sekarang, karena masih banyak orang yang menyayangi dan peduli padanya.

“Saya tidak punya anak, semua saudara saya juga sudah meninggal. Dulu pernah dikaruniai anak sama Allah, tapi sudah meninggal saat usianya masih dua tahun. Sekarang cuma ada keponakan saja,” kenangnya.

Ingatannya yang mulai melemah, membuatnya tak memiliki kegiatan yang produktif. Meski begitu kesehatannya masih terjaga, Kasiah pun bisa berjalan dengan baik. Semua itu tak lepas dari kasih sayang dan kepedulian keponakan, serta para tetangganya.

Meskipun hanya sebatas keponakan, ia sangat menyayangi Kasiah. Setiap hari keponakannya tak pernah lupa untuk menjenguknya, dan mengirimi makanan ke rumahnya, yang berada di daerah Banjar Kemuning, Sedati-Sidoarjo ini. Selain keponakannya, para tetangga juga memperhatikan keseharian Kasiah. Tak jarang ia tidur di rumah tetangganya, ketika ia takut berada di rumah sendirian.

“Sebelumnya saya pernah menikah, sampai tiga kali. Tapi Allah berkehendak lain, suami saya yang terakhir meninggal dunia 15 tahun yang lalu,” ceritanya.

Di masa mudanya, Kasiah berjualan jagung di pinggir jalan, sedangkan sang suami seorang penggembala kambing. Ia pun tak berdiam diri. Ketika ada tetangga yang memiliki hajatan dan membutuhkan tukang masak, Kasiah bersedia membantu. Tak jarang juga ia menyambi sebagai tukang cuci.

Melihat lika liku kehidupan Kasiah, LAZ DAU memberikan bantuan biaya hidup yang dicairkan setiap bulan, melalui Program Lansia Emergency. Untuk para donatur, simpatisan, dan pemerhati janda manula bisa menyalurkan donasinya melalui LAZ DAU. Informasi lebih lanjut bisa bersilaturahmi ke kantor, yang berada di Jl. Raya Buncitan No. 1 Sedati-Sidoarjo.

naskah dan foto: ayumungil

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *