Feature

Penuh Sabar, Nuripah Lewati Usia Senja Seorang Diri

Menghabiskan waktu di penghujung usia bersama anak cucu, memberikan kebahagiaan tersendiri di hati setiap orang, terutama seorang ibu. Hatinya yang lembut, tentu tak ingin melewatkan sejengkal tawa dari anak cucunya.

Sayangnya, kebahagiaan sederhana itu hanyalah menjadi sebuah harapan dan impian, yang tak kunjung nyata bagi Nuripah. Dengan penuh sabar, ia harus ikhlas melewati usia senjanya seorang diri.

Perempuan kelahiran 1951 ini, menghabiskan hari-harinya di gubuk kecilnya yang berada di Desa Kwangsan, tanpa anak dan suami. Lantaran pernah dikecewakan dan sakit hati karena lelaki, hingga detik ini pun Nuripah belum juga menikah. Masa mudanya, ia habiskan untuk mencari nafkah, demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan sang ibu.

“Dulu saya pernah kecewa dan sakit hati gara-gara laki-laki, akhirnya saya malas untuk memikirkan menikah. Saya hanya fokus pada bekerja dan bekerja, untuk ibu saya. Tapi sekarang saya menyesal, kenapa dulu tidak menikah?” kenangnya, saat ditemui Tim Redaksi Majalah Istiqomah.

Penyesalan hanyalah sebuah penyesalan, yang akan terus membelenggu hatinya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Nuripah, selain berdamai dengan kenyataan. Terlebih ketika kehangatan dalam keluarga itu, terenggut darinya.

Sejak kepergian mendiang ayahnya, ia harus berjuang sendiri, agar tetap bisa bertahan hidup. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, usianya pun belum genap 10 tahun. Dengan berat, ia merelakan masa kecil dan impiannya terlepas dari genggamannya.

Lalu, Nuripah mulai melakoni kehidupan barunya sebagai asisten rumah tangga. Perlahan tapi pasti, ia berusaha menyatu dan mencintai identitas barunya. Ia pun mulai terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga, sejak usianya masih 10 tahun.

“Waktu bapak meninggal, ibu memang masih ada. Tapi karena kami berasal dari keluarga nggak punya, jadi saya dan ibu mencari makan sendiri-sendiri,” tutur anak kedua dari empat bersaudara ini.

Seiring berjalannya waktu, perempuan asli Sidoarjo ini berhasil bangkit dari keterpurukan masa lalunya. Namun nampaknya keberuntungan belum sepenuhnya berpihak padanya. Sekali lagi, Nuripah mendapatkan ujian dalam hidupnya.

Terjatuh karena kecelakaan kerja, membuatnya tak bisa berjalan. Namun hal itu tak lantas membuatnya menyerah. Ia pun memanggil tukang pijat, berharap cidera di kakinya bisa segera sembuh.

Namun bukannya membaik, kakinya semakin parah dan membuatnya bergantung pada tongkat, ketika berjalan. Dengan sangat terpaksa, ia mengakhiri kariernya sebagai asisten rumah tangga pada 2012. Sudah hampir lima tahun ini, Nuripah menghabiskan hari-harinya seorang diri di rumah berukuran 3×3 meter.

“Kalau tidak sakit, saya juga masih ingin bekerja. Tapi kaki saya sakit, tidak bisa berjalan. Dengan kondisi saya seperti ini, siapa yang mau mempekerjakan saya? Sudah periksa ke dokter, ternyata ototnya nyelempit. Untuk pengobatan lebih lanjut, saya tidak punya uang, paling juga kaki saya tidak bisa sembuh,” gumamnya.

Beruntung ia masih memiliki tabungan, hasil kerja kerasnya selama ini. Sehingga ia bisa membangun sebuah rumah yang mungil, dengan menjual perhiasan simpanannya.

“Meski rumah ini terbuat dari gedhek dan kecil, tapi saya nyaman tinggal di sini. Untuk tanahnya, saya numpang orang,” terang perempuan usia 66 tahun ini.

Melihat kondisi Nuripah yang melewati usia senjanya seorang diri, Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU) memberikan bantuan biaya hidup, yang dicairkan setiap bulan. Melalui Program Lansia Emergency, sejak 2015, LAZ DAU telah membantu meringankan bebannya.

“Tapi sekarang saya sudah tidak punya tabungan lagi, sudah habis untuk berobat. Karena dulu saya juga pernah menderita tumor, sampai rahim saya diangkat. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dibantu LAZ DAU setiap bulan. Uangnya bisa saya buat beli obat dan makan,” pungkasnya.

Tak hanya LAZ DAU, kini biaya hidup Nuripah juga bergantung dari belas kasihan orang-orang di sekitarnya, seperti para tetangga dan saudara.

“Sebenarnya saya tidak mau minta-minta ke tetangga, tapi mereka yang memberikan sendiri, yaa saya terima. Kalau saya tidak menerima pemberian orang-orang, saya mau makan apa? Tapi prinsipnya, saya tidak mau meminta, kalau dikasih saya terima,” katanya di akhir perbincangan.

naskah dan foto: ayumungil

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *