Artikel

Gusti Allah Mboten Sare

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa terpencil, tinggallah seorang saudagar yang kaya raya, bernama Kusmiati. Ia hidup bahagia bersama anak dan suaminya. Saat itu, dia orang paling kaya di desanya. Bangunan rumahnya terlihat semakin besar dan kokoh, jika dibandingkan dengan gubuk reyot Mbah Sinem.

Sejak ditinggal suaminya meninggal, Mbah Sinem hidup sendiri di gubuknya. Usianya yang semakin lapuk, membuatnya tak sanggup lagi bertani. Untuk bisa tetap hidup, ia hanya mengandalkan uang kiriman dari anak-anaknya.

“Sudah jam 10, kok kamu nggak ke pasar, Kus??” tanya Mbah Sinem lirih.

“Bukan urusan si mbah..” sahut Kusmiati dengan ketus. “Meskipun aku nggak ke pasar, aku tetap bisa makan. Toh, hartaku ini nggak akan habis dimakan tujuh turunan.”

Tanpa disadari, ucapan Kusmiati telah melukai hati Mbah Sinem. Sejak kejadian itu, ia tak pernah keluar rumah. Hari-harinya ia habiskan dengan meratapi nasibnya, seorang diri.

Hingga suatu ketika, ada seorang wanita paruh baya lewat di desa itu. Dari dalam gubuk, Mbah Sinem memperhatikan gerak geriknya. Dengan mengenakan pakaian compang camping, wanita itu mendekati rumah Kusmiati.

Kusmiati yang terkejut dengan kehadirannya, langsung marah-marah tanpa alasan. “Siapa kamu??” Kusmiati meliriknya dengan was-was. “Pergi!! Aku nggak kenal sama kamu..”

“Yaa Allah, ndukk.. Apa salahku?? Aku cuma mau minta setangkai bunga mawarmu, untuk obat..” jawabnya lirih.

“Minta?? Beli dong!!” Kusmiati meninggalkannya begitu saja dan sebelum masuk rumah, ia kembali mencela wanita itu. “Dan apa salahmu?? Kesalahanmu cuma satu, kamu terlahir dan hidup sebagai orang miskin!”

Braakkkk!!!

Hatinya begitu terluka, mendengar ucapan Kusmiati. Hingga tak terasa air matanya menetes. Dengan tangan kosong, ia pergi dari rumah itu. Mbah Sinem yang mendengar suara kegaduhan, langsung keluar. Ia tak percaya, Kusmiati bisa bersikap kasar pada orang yang lebih tua. Rupanya, kekayaan telah membuatnya buta. Lalu wanita itu, diajak singgah di gubuknya.

Sambil terisak menahan tangis, wanita itu menceritakan semua yang terjadi di halaman rumah Kusmiati. Mbah Sinem sampai mengelus dada, mendengar ceritanya. Tak sampai hati, akhirnya ia memotong bunga mawar kesayangannya.

Dengan tulus, Mbah Sinem memberikan setangkai bunga mawar kepadanya. Ia langsung memeluk Mbah Sinem dengan erat. Tak pernah menyangka, dibalik gubuk reyotnya, Mbah Sinem memiliki kekayaan hati yang luar biasa.

Setelah kejadian hari itu, kehidupan Kusmiati terlihat berubah. Perlahan tapi pasti, ia mengalami kebangkrutan. Kini ia bersama keluarganya hidup terlunta-lunta.

Di sisi lain, kehidupan Mbah Sinem mulai membaik. Anaknya yang merantau di pulau seberang, mendapatkan rezeki lebih. Sehingga bisa membangun rumah, untuknya. “Gusti Allah mboten sare..” tuturnya.

 

Oleh Ayu Puspitaningtyas

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *