Feature

Ayahku, Penyemangatku

Tiga tahun lalu, sesaat setelah menjalani cuci darah, ayahnya terlihat lebih baik, bahkan tak sedikit pun terpancar di raut wajahnya menahan sakit. Ia dapat berjalan tegap, layaknya orang sehat pada umumnya.

Setibanya di kamar, ayahnya berkata kepada ibunya, bahwa ia sedang mengantuk. Karena setelah semalaman ayahnya tidak tidur, ibunya pun mengizinkan sang ayah untuk beristirahat. Akan tetapi Allah punya rencana lain. Saat itulah, ayahnya beristirahat untuk selamanya.

Waktu itu, usianya baru menginjak 15 tahun. Masa-masa remaja baru saja menghampirinya. Semangatnya untuk meraih mimpi pun sedang menggebu-gebu. Namun apa daya, Yuli Maulidiyah tak bisa menolak sang takdir. Ia harus ikhlas melepas kepergian ayahnya, sosok yang selama ini menjadi panutannya.

“Hari itu, ayahku sudah melakukan cuci darah sebanyak 8 kali. Hampir setengah tahun berlalu, ayah menjalani rutinitas itu. Pada saat ayah meninggal, aku ada di rumah. Waktu itu, aku juga sedang mengikuti try out dan menjelang Ujian Nasional (UN). Dan akhirnya, nilaiku sungguh mengecewakan,” cerita gadis yang akrab disapa Julay ini.

Sejak kepergian ayahnya, Alm. Yatiman, kehidupan Yuli dan ibunya, Romlah, pun berubah. Sebagai anak semata wayang, tentu ia tak sampai hati melihat ibunya berjuang seorang diri. Hatinya mulai gusar, antara melanjutkan pendidikannya atau tidak. Apalagi saat itu, ibunya sedang tidak bekerja.

Hingga di suatu hari, Ustadz Abdul Ghoni mendatangi rumahnya, untuk menawarkan kepadanya menjadi anak asuh Panti Asuhan Istiqomah. Namun Yuli tak langsung menjawab tawaran Ustadz Abdul Ghoni. Ia membutuhkan waktu untuk berpikir, sebelum mengambil keputusan.

Setelah berhari-hari ia merenung, Yuli pun menyetujui untuk diangkat menjadi anak asuh Panti Asuhan Istiqomah. “Aku berterima kasih sekali. Karena atas bantuan Istiqomah, aku bisa melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Sudah 3 tahun ini, aku menjadi santri Istiqomah,” tutur gadis yang terlahir di Sidoarjo ini.

Perlahan tapi pasti, Yuli mulai kembali menata hidupnya untuk meraih impian masa kecilnya, menjadi seorang guru ngaji. Dengan sekuat tenaga ia melawan rasa malas yang menghampirinya, hingga tak jarang ia menarik diri dari orang-orang yang ia sayangi. Semua itu ia lakukan demi impiannya.

Seiring berjalannya waktu, kini Yuli mulai beranjak dari impian masa kecilnya. Tujuan hidupnya tak sekadar menjadi guru ngaji, melainkan seorang dosen bahasa Arab.

“Cita-citaku di masa depan, aku ingin menjadi seorang dosen bahasa Arab. Sekarang aku mulai mempelajari buku-buu dan kamus-kamus bahasa Arab. Dan juga sedang memahami kitab nahwu shorof,” sambungnya.

Kegemarannya dengan bahasa Arab, dimulai ketika ia masuk ke jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs). Terlebih saat masih berada di pondok, ia sangat suka sekali mempelajarinya.

“Padahal awalnya, aku nggak bisa sama sekali, tapi aku tetap semangat. Dan salah satu penyemangatku untuk menjadi dosen bahasa Arab, karena ayahku. Dialah motivatorku,” kenangnya.

Sambil mengenang mendiang ayahnya, Yuli menceritakan bahwa sebenarnya ayahnya tak pernah menyuruhnya untuk belajar bahasa Arab atau menekuninya. Tapi karena kepandaian dan kemahiran ayahnya dalam menggunakan bahasa Arab, seakan menjadi cambuk bagi Yuli. Sehingga ia menjadi termotivasi dan ingin melanjutkan kemahiran ayahnya itu.

Semenjak menjadi santri Istiqomah, gadis kelahiran 17 Juli 1998 ini merasa sangat beruntung. Karena dapat terselamatkan dari mimpi buruk akan putus sekolah. “Alhamdulillah, melalui perantara Istiqomah, aku terselamatkan dari putus sekolah,” ujarnya.

Tak hanya dirinya, ibunya pun merasa sangat terbantu dengan kehadiran Istiqomah. “Sebelumnya ibuku tidak bisa membuat kue dan takut untuk memulai usaha. Tapi setelah ikut Bunda Yatim, salah satu Program Pemberdayaan Istiqomah, ibuku jauh lebih pandai membuat kue. Dan sekarang sudah berani berjualan makanan khas Sidoarjo,” tambahnya.

Bagi Yuli, Istiqomah memiliki peran penting dalam kehidupannya. Karena tak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, lembaga yang berlokasi di Jl. Raya Buncitan No. 1 Sedati-Sidoarjo ini juga mengajarinya untuk bekerja, dan mengenal banyak orang yang berbeda setiap harinya.

“Istiqomah sangat peduli dengan yatim, piatu, dhuafa, janda dan juga Kombes (Komunitas Becak Sedati, red). Bagiku, Istiqomah layak disebut sebagai pahlawan. Dialah pahlawan bagi anak-anak yang terancam putus sekolah karena masalah ekonomi, serta pahlawan bagi anak-anak yang ingin mandiri dan Qur’ani,” tutupnya diakhir perbincangan.

naskah: ayumungil | foto: dok.pribadi

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *