Feature

Dewi: Aku Menjadi Ibu sekaligus Ayah, untuk Anakku

Menjadi orang tua tunggal, tentu tidaklah muda. Terlebih harus menanggung biaya hidup empat anggota keluarga lainnya, seorang diri. Kondisi ekonomi yang pas-pasan, tak lantas menjadikannya putus asa.

Sejak suaminya meninggal, saat itu lah kesabaran Dewi Romlah di uji oleh Sang Pencipta. Tujuh tahun lalu, ia ditinggal oleh Alm. M. Yunus untuk selama-lamanya. Komplikasi karena diabetes, telah merenggut keseimbangan hidupnya. Tanggung jawab yang selama ini dipikul suaminya, kini beralih ke pundaknya.

“Waktu suami meninggal itu, juga ninggalkan banyak hutang, kan dulu suami dagang ikan bandeng. Untuk menyaur hutang, saya jual barang-barang di rumah. Lalu saya memulai semuanya dari nol,” kenang anak kedua dari lima bersaudara ini.

Sebulan setelah kepergian suaminya, salah satu pengurus Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU), mendatangi kediaman Dewi. LAZ DAU menawarkan kepadanya, agar putrinya bergabung dengan Panti Asuhan Istiqomah, menjadi santri binaan.

“Selain anak saya yang menjadi santri, saya juga bergabung di LAZ DAU, sebagai Bunda Yatim. Setelah menjadi binaan LAZ DAU, banyak sekali manfaat yang kami rasakan. Mulai dari beasiswa pendidikan hingga kajian rutin setiap bulan,” tuturnya.

Meski sudah bergabung menjadi binaan LAZ DAU, tak lantas membuatnya berdiam diri. Setahun lebih, Dewi ke sana kemari mencari pekerjaan yang sesuai, namun tak ditemukannya juga.

Lantaran tak ingin kehilangan waktu berharga bersama sang buah hati, yang waktu itu baru masuk TK, Dewi pun mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mencoba peruntungan di dunia dagang. Ia mulai membuka perancangan kecil-kecilan di depan rumahnya.

“Waktu ditinggal suami, saya belum bekerja, dan juga bingung mau kerja apa? Mau kerja di pabrik, takut nggak ada yang mengurus anak, karena waktu itu anak saya masih kecil, dan ibu masih tinggal di rumah Cemandi,” cerita wanita kelahiran Lamongan ini.

Perlahan tapi pasti, Dewi mulai bangkit dan menata kembali kehidupannya. Selama dua tahun, ia menggantungkan semua kebutuhan hidupnya pada perancangan yang berlokasi di Kalanganyar itu.

Namun usahanya membuka toko perancangan tak bertahan lama. Lantaran membutuhkan biaya yang lebih besar untuk pendidikan sang buah hati dan keponakannya, Dewi pun memutuskan menutup perancangan dan beralih pada usaha lainnya.

“Karena hasil dari buka toko perancangan nggak cukup untuk biaya pendidikan anak dan keponakan, akhirnya saya tutup. Tapi waktu itu nggak langsung saya tutup tokonya, tapi saya mencari bantuan ke teman dulu. Dan alhamdulillah, bisa jualan jus,” ujarnya.

Di awal 2013, Dewi mulai merintis usaha jualan jus di daerah Gedangan. Waktu itu toko perancangannya masih buka. Karena tidak bisa membagi waktu, ia pun memutuskan untuk menutup tokonya selamanya. Keputusan ini diambilnya agar bisa fokus ke usaha barunya.

“Di 2014, saya baru bisa fokus jualan jus. Tapi jualan jus juga nggak bisa maksimal, kalau musim hujan jarang buka. Kalau hujan sore nggak jadi berangkat, yaa saya nggak jualan. Tempatnya memang ramai, lokasinya juga di pinggir jalan, tapi gerobaknya ini yang bongkar pasang,” katanya.

Meski terkendala dengan tempat, tak menyurutkan semangat Dewi untuk mencari rezeki. Panas hujan pun tak ia hiraukan, sepi maupun ramai tetap dijalaninya dengan sabar. Setiap hari, mulai dari jam 4 sore hingga 9 malam, ia khususkan waktunya untuk berjualan. Semua ini ia lakukan hanya untuk memenuhi biaya hidup dan pendidikan anaknya.

“Maka dari itu, kalau saya nggak jualan, yaa bagaimana? Makan, sekolah anak-anak, uang saku, nabung, uang jajan ibu dua hari sekali, dan bayar asuransi, semua itu diambil dari hasil jualan jus. Kalau lagi sepi, sehari dapat Rp 300 ribu, kalau lagi ramai bisa mencapai Rp 400-500 ribu,” sambungnya.

Kesabaran dan usaha Dewi pun membuahkan hasil. Sang Pencipta telah membukakan jalan untuknya, di bidang usaha. Juli 2017 lalu, wanita berusia 33 tahun ini, membuka cabang di daerah Betro. Tak hanya berjualan jus, di tempat barunya ini ia juga berjualan buah.

“Awalnya saya maju mundur mau jualan jus di Betro. Karena saya nggak punya uang untuk beli rombong. Saya waktu itu memang punya uang simpanan, tapi itu untuk biaya sekolah anak-anak. Kemudian saya mengajukan bantuan ke LAZ DAU, dan alhamdulillah saya dipercaya menggunakan rombong ini,” kenangnya.

Tak berhenti sampai di sini, setiap insan selalu memiliki impian, begitu juga dengan Dewi. Selain bermimpi bisa memiliki kios sendiri, ia pun ingin menyekolahkan anak-anaknya sampai bangku kuliah. Agar kelak anak-anaknya bisa mendapatkan kehidupan lebih baik darinya.

“Semua yang saya lakukan saat ini, hanya untuk anak-anak saya. Meskipun ayahnya sudah nggak ada, tapi saya tidak ingin mereka merasakan kekurangan. Saya bisa jadi ibu, sekaligus menjadi ayah untuk mereka,” tutupnya di akhir perbincangan. naskah dan foto: ayumungil

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *