Feature

Tetap Sabar di Usia 100 Tahun

Kulitnya yang kering dan keriput hampir menghiasi sekujur tubuhnya. Rambut hitamnya, kini tak terlihat lagi. Namun di usianya yang mencapai 100 tahun, ia masih mampu mengenal setiap orang yang menyapanya. Mbah Purah, begitu lah warga Dusun Gebang, Gisikcemandi, memanggilnya.

Hampir setiap pagi, ia tak pernah absen duduk di kursi plastik kecil, di depan rumahnya. Dengan segala keterbatsan, ia tetap bertahan di gubuk tuanya, yang berukuran sekitar 4 X 7 meter. Meski beralaskan tanah, berdinding papan dan beratap asbes, Purah terlihat bahagia menghabiskan hari tuanya di sana.

“Di dalam rumah cuma ada satu kamar tidur, dapur dan kamar mandi,” katanya.

Di usianya yang mencapai satu abad ini, Purah masih menjaga kesehatannya dengan baik. Belum pernah sekalipun ia menderita sakit yang serius.

Alhamdulillah, diberikan kesehatan sama Allah. Kalau pun sakit, yang sering itu penyakit tua umumnya,” kenangnya, sambil duduk di kursi plastik depan rumah.

Usianya yang sudah melapuk, membuatnya tak lagi mampu berjalan jauh. Ia pun banyak menghabiskan waktunya duduk di kursi plastik kesayangannya itu. Akan tetapi, Purah tak pernah lupa untuk melemaskan otot-otot kakinya, meski hanya berjalan-jalan sebentar di sekitar rumahnya.

“Karena sudah tua, jadi saya nggak bisa duduk dibawah. Kalau jalan ke mana pun atau bertamu ke siapa saja, saya selalu membawa kursi plastik ini. Kemarin waktu takziyah di rumah tetangga, saya nggak bisa duduk, karena nggak ada kursinya. Jadi yaa saya berdiri,” ceritanya, sambil tertawa kecil.

Sabar. Hanya itu yang dilakukan Purah saat ini. Ia sangat bersyukur atas umur panjang yang diberikan Allah kepadanya. Karena dengan begitu, ia bisa menikmati setiap moment kebahagiaan bersama anak cucunya.

“Saya senang bisa menyaksikan pernikahan anak-anak saya. Sekarang tinggal cucu-cucu saja yang belum menikah. Semoga Allah memberikan saya kesempatan, untuk melihat mereka menikah,” harapnya.

Setelah suaminya meninggal satu tahun yang lalu, karena menderita hemoptisis (batuk berdarah, red). Kini Purah melewati hari-harinya di gubuk tua itu bersama anak bungsunya, Kasmani. Sama halnya dengan Purah, Kasmani juga hidup seorang diri, tanpa suami dan anak.

“Mbah Purah ini menikah dua kali, suaminya yang kedua sudah meninggal satu tahun yang lalu. Dari pernikahannya, Mbah Purah dikaruniai 10 anak, yang meninggal satu orang. Sejak bapak meninggal, saya yang merawat Mbah Pura. Karena kebetulan saya juga sendiri, suami saya sudah meninggal dan saya tidak punya anak,” tutur Kasmani.

Hanya Kasmani lah penompang hidup Purah saat ini. Meski mata pencahariannya sebagai buruh kupas kerang tak menentu, tak lantas membuat Kasmani putus asa. Ia tetap semangat mencari nafkah untuk menompang hidupnya dan memenuhi kebutuhan ibunya, Purah.

“Hasil dari mengupas kerang ini tidak menentu. Kadang sehari dapat tiga kilo, dan paling banyak kami menghasilkan lima kilo kerang yang sudah dikupas. Per kilo kerangnya dihargai Rp 5 ribu, dan kalau tidak ada kerang yaa kami menganggur..” tutup Kasmani di akhir perbincangan.

Melihat lika liku kehidupan Purah, LAZ DAU memberikan bantuan biaya hidup yang dicairkan setiap bulan, melalui Program Lansia Emergency. Untuk para donatur, simpatisan, dan pemerhati janda manula bisa menyalurkan donasinya melalui LAZ DAU. Informasi lebih lanjut bisa bersilaturahmi ke kantor, yang berada di Jl. Raya Buncitan No. 1 Sedati-Sidoarjo. naskah dan foto: ayumungil

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *