Feature

Gejolak Batin yang Tak Berujung

Ibarat burung dalam sangkar, seperti itulah yang dirasakannya selama lebih dari 10 tahun ini. Hatinya terus bergejolak dan bertentangan, antara logika dan nurani.

Ingin rasanya memeluk agama yang ia yakini. Namun apa daya, Ita tak punya cukup kekuatan untuk menentang sang suami. Ketika ia memantapkan hati untuk menikah, sejak saat itulah ia memeluk Katolik.

“Dulunya saya muslim, tapi waktu itu masih fakir ilmu. Meski setelah menikah saya memeluk Katolik, namun hati saya masih gusar. Dari dasar hati, saya hanya berpura-pura mengikuti suami, niatnya ingin menarik pelan-pelan agar bisa memeluk Islam,” kenangnya, saat ditemui Tim Redaksi Majalah Istiqomah.

Lantaran dengan berat hati memeluk Katolik, gejolak batin itu hadir dalam hatinya. Tak jarang, ia mencuri-curi waktu untuk mengerjakan sholat. Namun seiring berjalannya waktu, bukannya dapat menarik suami, melainkan ia yang tertarik dan hanyut semakin dalam memeluk Katolik.

“Waktu itu, saya juga sempat belajar katolik. Tapi saat berdoa secara Katolik, hati saya masih belum bisa tenang,” tambahnya.

Ketika ia semakin jauh dari Allah, usaha jualan baju yang selama ini ia bangun, tiba-tiba jatuh. Ita mengalami kebangkrutan, dan seketika itu juga ia terlilit hutang. “Mungkin ini cara Allah mengingatkan saya, agar kembali ke jalan yang diridhoi-Nya,” tutur ibu dari tiga anak ini.

Tepat pada 2009 lalu, Ita mulai menyadari kesalahan yang telah ia lakukan selama beberapa tahun silam. Tak seharusnya ia menjalani kehidupan dengan setengah hati, antara Katolik dan Islam.

Setelah mendapatkan saran dari beberapa kiai, ia pun memantapkan hati untuk kembali memeluk agama Islam. Ita pun mulai mengerjakan sholat dan belajar ngaji. Meski ia harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi dari suaminya, tak menyurutkan niatnya untuk kembali di jalan Allah.

“Di tengah perjalanan, mukenah dan Al Qur’an kecil saya, yang tersimpan rapi di dalam lemari, ketahuan sama suami. Seketika itu juga, dia langsung marah. Saya juga sering mendapatkan perlakuan kasar darinya,” cerita wanita yang berusia 38 tahun ini.

Untuk bisa menjalankan syariat Islam, Ita pun harus berpura-pura di hadapan suaminya, dan membuatnya percaya bahwa dirinya telah kembali memeluk Katolik. Sholat, ngaji, puasa, semua itu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi.

“Saya pun memutuskan untuk bercerai di tahun 2011 lalu. Kemudian saya urungkan niat saya, karena saat itu ternyata saya sedang hamil dua bulan,” katanya.

Setelah bertahun-tahun menjalani hidup dengan kepura-puraan, tepat pada Ramadhan 2016 lalu, sepulang dari i’tikaf, tak ada lagi keraguan dihati Ita untuk mengakui, bahwa ia telah memeluk agama Islam. “Setelah membaca surat Ali Imran, saya merasa yakin dan memiliki keberanian untuk jujur ke suami, kalau saya sudah masuk Islam,” pungkasnya.

Tak hanya kemarahan sang suami yang didapatkan Ita, namun anak-anaknya pun turut menjadi korban pertengkaran mereka. Suaminya meninggalkannya begitu saja, bersama anak-anaknya.

“Bahkan anak saya yang pertama menyalahkan saya, gara-gara ibu masuk Islam, kita ditinggal ayah dan tidak terurus. Jadi ujian saya waktu itu, bukan hanya dari perekonomian yang berubah 360 derajat, tapi anak saya juga berontak dan berani kepada saya,” tuturnya.

Memang mahal, harga yang harus dibayar Ita untuk kembali di jalan Allah. Ujian demi ujian datang dalam kehidupannya. Mulai dari anak, materi, hingga nyawa pun menjadi taruhannya.

“Saat ini proses perceraian saya, sedang berjalan. Ketika proses ini sudah selesai, mau tidak mau, siap tidak siap saya harus bisa move dan mandiri. Sebenarnya saya juga kasihan dengan anak-anak, karena masih membuthkan kasih sayang ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi, saya percaya, Allah akan menunjukkan jalan kepada saya, kemana saya harus melangkah, setelah ini?” tutupnya diakhir perbincangan.

naskah: ayumungil

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *