Feature

Putra Putriku, Kekuatan Terbesarku

Hidup dan ujian telah diciptakan dalam satu paket, yang tak akan terpisahkan. Menjalani kehidupan tanpa diuji, serasa makan sayur tanpa garam. Begitulah yang dirasakan Suliyati, salah satu Bunda Yatim binaan Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU).

Delapan tahun lalu, ia sempat kehilangan semangat hidupnya. Ketika sang suami divonis dokter menderita Hernia, saat itulah ia menjalani hari-harinya seperti mimpi buruk. Ingin rasanya, Suliyati bangkit dan bangun dari mimpi buruknya. Namun apa daya, ia tak mampu memikul beban keluarganya seorang diri.

Di satu sisi, sang suami sedang sakit dan memerlukan perawatan intensif. Di sisi lain, ketiga anaknya masih kecil-kecil. Waktu itu, putra sulungnya, Rangga, masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Suliyati tak sampai hati merenggut masa kecil putra putrinya, dengan memberikan beban tanggung jawab dipundak mereka.

Sementara itu, pendapatannya sebagai penjual gorengan hanya berkisar Rp 50 ribu per hari. Uang yang ia hasilkan dari jualannya, sangat jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Himpitan ekonomi itulah yang mendorong Suliyati ingin mengakhiri hidupnya sendiri.

“Untuk makan saja susah, sehingga waktu itu saya pernah punya pikiran untuk bunuh diri. Keadaannya saat suami sakit, dan saya baru bisa memberi makan anak-anak ketika magrib, seperti orang berpuasa. Bahkan ketika ada tetangga yang membuang nasi, saya pun menangis,” kenang wanita yang lahir di Surabaya ini.

Namun karena masih memiliki iman di hatinya, Suliyati pun tersadar dan langsung menyebut nama Allah. Tak henti-hentinya ia memohon ampunan atas niatnya itu. Ketika melihat putra putrinya, ia tak kuasa menahan tangis.

“Melihat anak-anak yang masih kecil-kecil, hati saya terenyuh. Dan mereka adalah kekuatan terbesar saya dalam menghadapi kehidupan ini,” sambungnya.

Setahun pun berlalu, setelah berbagai macam pengobatan dilakukan, suaminya, alm. Jamadi, menghembuskan nafas terakhirnya pada 10 Oktober 2010. Sejak saat itu, Suliyati berusaha lebih tegar, dan kuat dalam menjalani kehidupannya. Karena hanya dirinya lah yang menompang kehidupan keluarganya.

“Kesulitan itu diatasi saja. Memang sulit, tapi kita harus bisa mengatasinya. Ada atau nggak ada suami, sama saja seperti ini. Kalau dulu ada suami yang membantu berjualan gorengan, sekarang dibantu Rangga untuk mencari nafkah,” tutur anak bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Seakan takdir yang menuntun Suliyati, mengenal Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU). Beberapa bulan sebelum suaminya meninggal, ia mendapat saran dari temannya, untuk mendaftarkan putra putrinya menjadi santri Panti Asuhan Istiqomah, yang berada di bawah naungan LAZ DAU.

“Waktu itu, saya sedang terjepit. Untuk makan saja susah, apalagi biaya pendidikan anak-anak. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftarkan ketiga anak saya ke LAZ DAU. Alhamdulillah, beban saya menjadi lebih ringan, setelah dibantu LAZ DAU, terutama untuk biaya pendidikan anak-anak,” kenangnya.

Suliyati pun merasa sangat beruntung dapat mengenal LAZ DAU. Banyak hal yang dapat ia serap dari lembaga yang berlokasi di Jl. Raya Buncitan No. 1 Sedati-Sidoarjo itu. Mulai dari biaya pendidikan hingga kemandirian dalam berwirausaha.

“LAZ DAU sangat baik, terutama kepada masyarakat yang kurang mampu. Selain memberikan bantuan, juga sering mengadakan pelatihan-pelatihan. Sehingga kami, para Bunda Yatim bisa mandiri,” tutur wanita yang tinggal di Desa Pepe ini.

Di setiap ujian yang datang, selalu meninggalkan secercah harapan, begitulah yang dirasakan Suliyati. Dari sekian banyak cobaan yang telah ia lalui, sebagai ibu tunggal dari tiga orang anak, ia juga ingin memiliki tempat tinggal yang tetap.

Selain itu, ia juga berupaya untuk memenuhi semua kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Sehingga mereka bisa melanjutkan sekolah sesuai dengan kemampuannya.

“Minimal anak-anak bisa tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Jika dulu Rangga terpaksa harus putus sekolah, maka sekarang jangan sampai hal itu terjadi kepada kedua adiknya,” tutupnya di akhir perbincangan.

naskah dan foto: ayumungil

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *