Feature

Yakin, Karena Allah Bersamaku

Menghadapi perceraian orang tua di usia balita, tak lantas membuat Virna Irda Palupi tumbuh menjadi anak pemarah dan kekurangan kasih sayang. Namun sebaliknya, ia tumbuh menjadi perempuan yang tegar dan mandiri.

Sejak perpisahan itu, ia dan kakaknya, Vidia Eka Saputri, memilih tinggal bersama ayahnya, Didik Budiarto, di Malang. Perjalanan hidupnya yang berliku lah, membawa Virna mengenal Rumah Amal Istiqomah.

“Orang tuaku sudah bercerai sejak 1997. Aku bergabung dengan Istiqomah dari kelas 6 SD, tepatnya tahun 2008 lalu. Sejak kecil aku dan kakak tinggal bersama ayah. Tapi saat kelas 5, ayah mengalami musibah, akhirnya kami harus pindah ke rumah ibu, di Sidoarjo,” tutur perempuan yang lahir pada 16 Maret 1996 ini.

Menjadi orang tua tunggal tentu tak mudah bagi ibunya, Sulastri. Dengan gaji yang pas-pasan pada saat itu, ibunya merasa akan mengalami kesulitan untuk membiayai dirinya dan kakaknya. Sehingga mereka mendaftarkan Virna ke Rumah Amal Istiqomah, untuk mendapatkan bantuan penunjang biaya pendidikan.

“Jujur saja, awalnya aku malu karena harus masuk ke sebuah yayasan. Kesannya horror banget dan sempat juga berpikir, sebenarnya keluargaku kenapa sih? Sampai aku harus dimasukkan ke yayasan, dan setiap bulan harus ke sana minta uang. Pikirku waktu itu, aduh bikin malu aja,” cerita perempuan yang terlahir di Kota Malang ini.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Virna mulai menyadari beratnya beban yang harus dipikul oleh ibunya. Hal itu baru ia rasakan, ketika masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Semua itu baru terasa, ketika aku masuk SMP bahkan SMA. Di mana SPP-nya jauh lebih besar, jika dibandingkan dengan SD. Aku lupa nominalnya, yang kuingat waktu SMA Rp 250 ribu,” kenangnya.

Sebelum menjadi santri, Virna tak mengenakan hijab. Dalam benaknya masih terbesit sikapnya yang angkuh, karena merasa dulunya keluarganya baik-baik saja dan mampu. Namun cara pandangnya berubah, setelah mengenal Rumah Amal Istiqomah. Meskipun tergolong santri luar, Virna merasa ada yang memperhatikannya.

“Di sini ada yang menghargai prestasiku. Selain itu, aku juga senang ketika bertemu dengan santri-santri lain. Pikirku, masya Allah aku kurang bersyukur banget jadi orang, ada yang sudah nggak punya orang tua, ada yang orang tuanya benar- benar tidak mampu tapi di dalam matanya masih tersirat harapan agar anaknya bisa lebih sukses dari dirinya,” tutur mahasiswi Universitas Brawijaya (UB) ini.

Setelah terketuk hati kecilnya, Virna pun memutuskan untuk berhijab, ketika masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meski masih belum bisa sepenuh hati, namun tekatnya sudah bulat. Dia semakin termotivasi, ketika Rumah Amal Istiqomah selalu menanyakan nilai raport dan prestasinya.

“Karena memang dari dulu study oriented, aku jadi merasa termotivasi. Bapaknya juga sempat bilang, kalau adek prestasinya bagus, nanti donaturnya juga senang. Mendengar hal itu, aku menjadi lebih termotivasi lagi,” sambungnya.

Namun Virna juga memahami, kalau Rumah Amal Istiqomah tak mungkin membiayai pendidikannya sampai bangku kuliah. Ketika lulus SMP, ia telah disarankan untuk masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), agar bisa langsung bekerja.

Dengan pertimbangan lain, Virna menolak masuk SMK dan memilih melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia memiliki keyakinan yang kuat, bahwa dirinya pasti bisa merasakan bangku kuliah, meski ia harus mencari uang sendiri untuk biaya pendidikannya.

Alhamdulillah, aku masuk ke SMA Negeri 3 Sidoarjo. Waktu itu, sekolahku 100% mendukungku, mereka sangat bekerja keras untuk memasukkan anak didiknya ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Jalur undangan lah, yang membawaku ke PTN UB, dengan jurusan Teknologi Industri Pertanian,” terangnya.

Virna sendiri tak pernah menyangka bisa kuliah di UB. Karena saat itu, ia hanya bermodal keyakinan dan percaya pada Allah. Ia telah menyerahkan segala sesuatunya kepada Sang Pencipta. Karena ia menyakini, rezekinya telah diatur oleh Allah.

“Ketika masuk kuliah, biaya awalnya memang Rp 3 juta. But, after that scholarship was came. Aku dapat keringanan biaya hingga Rp 1 juta. Bahkan aku juga dapat beasiswa Rp 4,2 juta. Allah baik banget sama Virna,” tambahnya.

Tak berhenti sampai di situ, setelah merasakan bangku kuliah, Virna juga berkeinginan menjadi hafidzah. Sehingga bisa mengantarkan kedua orang tuanya pada surganya Allah SWT.

“Usaha yang paling menjadi tantangan itu, karena orang tua sudah sendiri-sendiri, sometimes aku merasa sedih harus terpisah. Karena untuk berbagi kebahagiaan saja, harus pindah kota,” ujarnya.

Setelah melalui perjalanan yang panjang, Rumah Amal Istiqomah memiliki tempat tersendiri di hati Virna. Baginya, Istiqomah sangat berkontribusi dalam pendidikannya. Jika saat itu ia tak mengenal Istiqomah, maka ia tak akan pernah bisa merasakan bangku kuiah. Karena tanpa Istiqomah, mungkin ia tak bisa menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMA.

“Sahabatku santri di Istiqomah, jodoh, kematian, dan rezeki sudah menjadi ketetapan Allah. Entah dari dari mana kita berasal, dilahirkan dari keluarga yang seperi apa, itu adalah kuasa Allah SWT. Teruslah berikhtiar, lakukan saja yang terbaik, serahkan hasilnya pada Allah. Ingatlah, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Keep fight and thank you Istiqomah. May Allah ease your way to keep helping each other,” tutupnya di akhir perbincangan.

naskah: ayumungil | foto: dok.pribadi

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *