Feature

Buah Manis Restu Ibu

Layaknya pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”, seperti itulah Yuli Maulidiyah, salah satu santri binaan Lembaga Amil Zakat Dompet Amanah Umat (LAZ DAU), yang tak pernah lelah mewujudkan mimpinya.

Sejak kepergian ayahnya, Alm. Yatiman, kehidupan Yuli pun berubah. Sebagai anak semata wayang, tentu ia tak sampai hati melihat ibunya berjuang seorang diri. Hatinya mulai gusar, antara melanjutkan pendidikannya atau tidak.

Hingga di suatu hari, ada yang mendatangi rumahnya, untuk menawarkan menjadi anak asuh Panti Asuhan Istiqomah, yang dinaungi langsung oleh LAZ DAU. Setelah berhari-hari merenung, Yuli menyetujui untuk diangkat menjadi santri binaan.

Perlahan tapi pasti, Yuli mulai kembali menata hidupnya untuk meraih impian masa kecilnya, menjadi seorang guru ngaji. Dengan sekuat tenaga ia melawan rasa malas yang menghampirinya, hingga tak jarang ia menarik diri dari orang-orang yang ia sayangi.

Seiring berjalannya waktu, Yuli mulai beranjak dari impian masa kecilnya. Tujuan hidupnya, kini tak lagi sekadar menjadi guru ngaji, melainkan seorang dosen bahasa Arab.

“Cita-citaku di masa depan, aku ingin menjadi seorang dosen bahasa Arab. Sekarang aku mulai mempelajari buku-buku dan kamus-kamus bahasa Arab. Dan juga sedang memahami kitab nahwu shorof,” sambungnya.

Tak hanya mempelajari buku dan kamus bahasa Arab, Yuli pun berusaha merobohkan dinding belenggu, yang selama ini telah menyekat dunianya. Bahkan sempat terbesit dalam benaknya, untuk hijrah dan menimbah ilmu di kota lain.

Namun sepertinya Allah punya rencana lain, Yuli pun gagal di seleksi tahap awal. Kegagalan yang dialaminya tak lantas membuatnya menyerah. Kali ini, Yuli mulai memikirkan pendapat ibunya, yang menginginkan agar ia tetap melanjutkan pendidikannya di Surabaya saja.

Dengan penuh pertimbangan, akhirnya ia menjatuhkan pilihan ke Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), sesuai keinginan ibunya. Lewat jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Yuli berhasil menjebol Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UINSA.

“Salah satu alasanku memilih jurusan ini, karena aku ingin sekali bisa berhijrah ke Mesir, tepatnya Kairo,” pungkasnya.

Kegemarannya dengan bahasa Arab, dimulai ketika ia masuk ke jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs). Terlebih saat masih berada di pondok, ia sangat suka sekali mempelajarinya.

“Padahal awalnya, aku nggak bisa sama sekali, tapi aku tetap semangat. Dan salah satu penyemangatku untuk menjadi dosen bahasa Arab, karena ayahku. Dialah motivatorku,” kenangnya.

Sambil mengenang mendiang ayahnya, Yuli menceritakan bahwa sebenarnya ayahnya tak pernah menyuruhnya untuk belajar bahasa Arab atau menekuninya. Tapi karena kepandaian dan kemahiran ayahnya dalam menggunakan bahasa Arab, seakan menjadi cambuk bagi Yuli. Sehingga ia menjadi termotivasi dan ingin melanjutkan kemahiran ayahnya itu.

Untuk bisa sampai di tahap ini, banyak hal yang harus dilaluinya. Mulai dari belajar dan bersaing dengan teman sebayanya, hingga cibiran dari orang sekitarnya. Bak menelan pil pahit, seperti itulah yang dilakukan Yuli untuk menepis setiap cibiran yang datang.

“Ibuku selalu mendukung setiap langkahku. Dan doa ibulah yang bisa mengantarku sampai di sini. Meskipun dari SD sampai SMA, aku tidak pernah bersekolah di negeri, tapi aku mampu membuktikan bisa lolos SBMPTN,” tuturnya.

Semenjak menjadi santri Istiqomah, gadis kelahiran 17 Juli 1998 ini merasa sangat beruntung. Karena dapat terselamatkan dari mimpi buruk akan putus sekolah.

Alhamdulillah, melalui perantara Istiqomah, aku terselamatkan dari putus sekolah,” ujarnya.

Bagi Yuli, Istiqomah memiliki peran penting dalam kehidupannya. Karena tak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, lembaga yang berlokasi di Jl. Raya Buncitan No. 1 Sedati-Sidoarjo ini juga mengajarinya untuk bekerja, dan mengenal banyak orang yang berbeda setiap harinya.

“Bagiku, Istiqomah layak disebut sebagai pahlawan. Dialah pahlawan bagi anak-anak yang terancam putus sekolah karena masalah ekonomi, serta pahlawan bagi anak-anak yang ingin mandiri dan Qur’ani,” tutupnya diakhir perbincangan.

naskah dan foto: ayumungil

*naskah ini pernah dimuat di Majalah Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *