Catatan Harian

Prolog: Sekeping Perjalanan Hijrahku

“Tong, lihat deh. Ada yang sok suci. Pakai hijab syar’i.”

“Itu hijab apa taplak meja, lebar amat bukk?”

“Halah.. Sekarang aja, menolak untuk berjabat tangan dengan lawan jenis. Nggak ingat sama kelakuan minusnya zaman dulu, yang sering gonta ganti pasangan.”

Kata-kata itu kerap kali aku dengar, ketika diri ini menghadiri undangan teman lama. Cibiran dan cacian, seakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Panas memang, karena semua itu terlontar dengan pedasnya, seakan mereka benar dan aku salah.

Tak ada hal lain yang bisa kulakukan, selain menelan semua kata-kata itu dengan hati yang lapang. Karena aku memahami, apapun yang kita lakukan pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Terlebih dengan segala perubahan dari jalan yang telah aku pilih.

Ibarat pohon, semakin tinggi maka semakin kencang pula angin yang menerpanya. Dan aku pun mengalaminya. Tak tangung-tanggung, kali ini ada yang kembali melontarkan tudingan pedasnya padaku.

“Nggak usah sok suci!! Muslimah macam apa, yang sering keluar berdua dengan suami orang??”

Kata-kata itu selalu teringang dalam benakku. Seakan tertanam begitu kuatnya, hingga diri ini tak mampu mengusirnya. Bahkan sempat langkah ini goyah, hati pun jadi tak tentu.

Di setiap malam, dalam sujudku, aku bertanya pada Sang Illahi, “Yaa Rabb, apa benar ini jalanku?? Sungguh aku tak pernah berniat menyakiti hati siapapun. Kenapa aku harus merasakan pedih yang tak berujung seperti ini?”

Aku berusaha menjalani hari-hariku seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Aku mampu tersenyum, ketika berada di tengah keramaian. Tapi aku kembali mengingat semuanya, setelah mereka meninggalkanku. Sungguh, rasanya diri ini tak mampu bertahan, dan ingin berlari kembali memutar sang waktu.

Aku memang bukan wanita baik-baik. Diri ini kotor, hina dan penuh dengan dosa. Aku hanyalah wanita akhir zaman, yang tengah berusaha menjadi sholehah. Lantas kenapa harus mempertanyakan identitasku? Pahamilah, muslimah itu berkaitan dengan aqidah, sedangkan apa yang aku lakukan itu berkaitan dengan akhlak.

Bila nanti kau temui aku, dengan akhlak yang belum secantik rupaku, tolong jangan salahkan hijabku. Hijab ini perintah dari Rabb-ku, sementara yang kau lihat, itu hanya sekeping dari perjalanan hijrahku.

 

Sidoarjo, 17 Mei 2018

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *