Catatan Harian

Haruskah Aku Berhijrah?

Brakkk!!!

Untuk kesekian kalinya aku mendengarkan pertengkaran yang terjadi di antara kedua orang tuaku. Kali ini, aku tak tahu apalagi yang mereka perebutkan.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk kembali, tapi tidak untukku. Bagiku rumah ini ibarat neraka. Aku tak sama sekali merasakan ketenangan dan keharmoniskan sebuah keluarga.

Hampir setiap hari aku menyaksikan pertengakran mereka. Dan situasi ini semakin memanas setelah kakekku lebih dulu berpulang pada Sang Pencipta. Kehidupan yang baik-baik saja, seketika berubah menjadi porak poranda.

Aku tak lagi merasakan kehangatan keluarga. Tak hanya itu, satu persatu prestasi yang berhasil aku raih, lepas begitu saja dari genggamanku. Bahkan aku terancam putus sekolah. Lantaran tak memiliki cukup biaya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hari berganti hari kulalui dengan kesunyian. Sendiri dan sepi, itulah yang aku rasakan. Jiwa ini seakan kering. Sejak kecil, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Hal itu sudah bisa dipastikan dan tidak dapat ditolak. Yaa, seperti sudah ada yang menjamin aku akan mendapatkannya. Tapi tidak, untuk sekarang!

Tak ada kegiatan lain yang bisa kulakukan, selain melamun. Bukan mengutuk Tuhan, aku hanya sedang merenung dan bernegosiasi dengan-Nya. Apa yang sebenarnya diinginkan-Nya?

Kakek, orang yang paling aku sayang telah dipanggil-Nya lebih dulu. Sementara itu, Dia juga mencabut kenikmatan dalam rumah ini, hingga tak kutemui lagi keharmonisan dalam keluargaku. Jiwaku pun terasa kering, tak bernyawa, meski aku masih bernapas. Belum lagi, dengan prestasi yang selama ini berhasil aku genggam, satu per satu mulai terlepas.

“Apa-apaan ini??” batinku dalam hati, dengan setengah marah.

Tiba-tiba ada seseorang yang sudah tua rentah menghampiriku. “Berhijrahlah, Allah rindu.”

“Benarkah Allah rindu?? Haruskah aku berhijrah??”

Belum sempat menjawab pertanyaanku, ia telah pergi meninggalkanku begitu saja. Aku pun terdiam dan kembali merenung. Melamun? Yaa, semacam itu yang aku lakukan akhir-akhir ini.

“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

 

Sidoarjo, 18 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *