Catatan Harian

Sebuah Tempat Persinggahan

“Benarkah Allah rindu?? Haruskah aku berhijrah??”

Dua pertanyaan itu terus membelengguku. Aku masih saja mencari jawaban dalam setiap malamku. Berhari-hari aku tak bisa tidur memikirkannya. Berharap bisa lepas dari jeratan masalahku.

Bagaikan hidup di penjara? Ya, seperti itulah diriku sekarang. Secara kasat mata, aku memang bebas. Aku tak hidup di balik jeruji besi. Namun hati ini terus meronta, mencari kebebasan dan ketenangan batin yang entah telah pergi ke mana.

“…. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

“Benarkah Allah rindu?? Haruskah aku berhijrah??”

Pertanyaan itu kembali muncul dan sejenak aku terdiam. Diri ini mulai mencari, untuk apa sebenarnya aku ada di dunia yang fana ini? Yaa, mungkin selama ini aku terlalu sombong. Sehingga aku melupakan satu hal. Yakni, lupa akan hakikat diri ini diciptakan.

Mungkin aku selama ini terlalu sibuk dengan urusan dan duniaku sendiri. Mulai dari mengejar status sosial agar dipandang baik di mata masyarakat, hingga mengejar cinta manusia. Sementara aku melupakan pandangan Allah dan mengabaikan cinta-Nya padaku.

“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku,” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dalam surat cinta-Nya, Allah telah berpesan, bahwa Dia adalah tujuan hidup yang sebenarnya. Aku, kamu dan kita semua diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya, bukan yang lain.

Tapi sayangnya, diri ini telah melupakan tujuan utama sebagai manusia. Aku pun menyadari, selama ini hanya mengutamakan dunia dan perhiasan yang ada di dalamnya. Sementara aku tak pernah tahu, berapa lama lagi waktu yang aku punya di dunia ini.

“Astagfirullah…”

Dunia ini benar-benar ibarat lautan, yang semakin aku meminumnya, maka akan semakin haus pula tenggorokanku. Karena kenikmatan dan keindahan yang ditawarkannya terasa amat menyenangkan. Sehingga diri ini melupakan apa yang seharusnya dikerjar dan didapatkan. Yakni, cinta dari Sang Maha Cinta.

Aku masih ingat, ketika azan berkumandang diri ini lebih memilih melanjutkan perjalanan, kerena takut terlambat menghadiri undangan rapat. Tak jarang juga, ketika kakek menyuruh salat, tapi aku tak kunjung berangkat mengambil air wudhu. Yaa, lelah menjadi senjata utama untuk menunda panggilan dari Sang Pencipta.

Dunia begitu mempesona, menyihir mata, telinga bahkan hati dan jiwa. Godaan harta, jabatan, juga rasa cinta dapat menjatuhkan diri ini pada jurang kebinasaan. Aku pun mulai memahami, dunia yang kita tinggali saat ini hanyalah sebuah tempat persinggahan. Yang artinya, aku harus melanjutkan perjalanan hingga sampai pada tujuan yang hakiki.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’aam: 32).

 

Sidoarjo, 19 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *