Catatan Harian

Agamaku Mengajarkanku Hidup Sederhana

Sudah menjadi sifat dasar manusia, yang selalu merasa kurang atas apa yang telah ia miliki. Aku pun juga merasakan hal yang sama. Yaa, rasa syukur itu masih belum bersemi dalam hatiku. Bahkan aku cenderung konsumtif dan menghamburkan uang.

Ketika kakek mengingatkanku, aku selalu berdalih bahwa ini adalah kebutuhanku bukan hanya sekadar keinginan. Nyatanya, itu hanya sebuah alasan belaka yang sengaja aku reka, untuk mendapatkan keinginanku.

Dan sepeninggal kakek, semua berbeda. Seketika berubah 180 derajat. Apa yang selama ini telah menjadi milikiku, satu per satu terlepas dari genggamanku. Yaa, mungkin ini juga salahku. Yang tak pernah merasa puas dan cenderung konsumtif.

Dalam surat cinta-Nya, Allah pun telah menegaskan, bahwa sifat dasar manusia adalah menghamburkan uang dan berfoya-foya saat berada dalam kondisi berada, menghindari gaya kesederhanaan dan keseimbangan.

“Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syûra: 27).

“Astagfirullah…”

Aku selama ini benar-benar telah menjadi orang yang merugi. Kerena selalu berbangga diri dengan apa yang aku miliki, serta berfoya-foya atas harta yang bukan milikiku tapi milik kakek. Hati ini kembali bertanya, “Benarkah Allah rindu?? Haruskah aku berhijrah??”

Padahal agamaku telah mengajarkan kepada setiap hamba-Nya untuk berlaku hidup sederhana. Dengan hidup sederhanalah, diri ini akan selalu merasa cukup, bahagia, dan bersyukur kepada Sang Pencipta. Yaa, sekarang aku baru menyadarinya. Bahwa selama ini aku telah menjalani hidup dengan cara yang salah.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsuur: 1).

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Israa’: 26-27).

Astagfirullah… Allah menyebut mereka yang bermewah-mewahan sebagai orang yang lalai dan masuk neraka. Melalai surat cinta-Nya, Allah telah berpesan, mereka yang boros dan menghamburkan harta untuk kepentingan pribadi secara berlebihan sebagai “saudara setan”. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan orang yang boros biasanya akan berlaku zalim.

“Yaa Rabb, apa yang selama ini sudah hamba lakukan?? Benarkah Engkau rindu?? Haruskah aku berhijrah??”

 

Sidoarjo, 20 Mei 2018

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *