Catatan Harian

Kembalilah Pada Fitrahnya

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar Rum: 30).

“Yaa Rabb, apa yang selama ini sudah hamba lakukan?? Benarkah Engkau rindu?? Haruskah aku berhijrah??”

Dunia yang hanya sebuah tempat persinggahan, selalu aku kejar tanpa henti. Waktuku habis hanya untuk mendapatkan perhiasan di dalamnya. Hingga aku melupakan tujuan hidup yang sebenarnya.

Aku pun selalu berbangga diri dengan apa yang kumiliki, serta berfoya-foya atas harta kakek. Sungguh aku benar-benar menjadi orang yang merugi. Padahal agamaku telah mengajarkanku untuk hidup sederhana.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsuur: 1).

Lalai? Yaa, aku memang lalai. Dan aku baru menyadarinya, setelah Allah menegurku. Satu per satu yang kumiliki terlepas dari pelukanku. Mulai dari kehilangan orang yang paling disayang, hingga runtuhnya citra yang telah aku bangun.

Maha Besar Allah dengan segala kuasa-Nya. Sekuat apapun seorang hamba, jika Allah telah mencabut satu kenikmatan dari dalam dirinya, maka ia akan goyah. Kebahagiaan itu seakan sirna, hati pun menjadi gusar. Begitulah yang aku rasakan sekarang.

Hanya satu kuncinya, hati. Jika berbicara tentang hati, itu artinya kita tengah membicarakan bagian tubuh manusia yang paling penting dan utama. Karena baik buruknya seluruh anggota tubuh manusia tergantung dari baik atau buruknya hati.

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Lebih dari itu, di hatilah tempat tumbuh dan berkembangnya iman kepada Allah. Yang menjadi landasan utama kebaikan dan kemuliaan hidup seorang hamba di dunia dan akhirat. Dengan memperbaiki hati, sama dengan melakukan perbaikan iman dan menyempurnakan pertumbuhannya.

Sementara, semua manusia dilahirkan atas fitrah. “Semua bayi (yang baru lahir) dilahirkan di atas fitrah (cenderung kepada Islam), lalu kedua orang tuanya lah yang menjadikannya orang Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhari 1/465 dan Muslim no. 2658).

Lantas, kalau sudah seperti ini aku menyalahkan siapa? Ayahku? Ibuku? Kakekku? Nenekku? Atau keluarga besarku? Tidak! Jika aku menyalahkan mereka, maka aku akan benar-benar menjadi orang yang jahat. Begitu tidak adilnya, apabila aku meminta pertanggung jawaban mereka atas semua keruwetan yang terjadi dalam hidupku.

Mereka telah mengajarkan padaku, mana yang benar dan mana yang salah. Hanya saja aku yang selalu berdalih dan banyak alasan. Yang begini lah, yang begitu lah. Semua hal yang tidak masuk akal telah aku reka menjadi logis, menurutku.

Yaa, aku memahaminya. Jika aku yang menciptakan keruwetan dalam hidupku, maka aku lah yang harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Dalam surat cinta-Nya, Allah telah berpesan, “Sesungguhnya Aku menciptakan para hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus dan cenderung pada kebenaran) dan sungguh (kemudian) para syaitan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka…” (HR. Muslim no. 2865).

“Astagfirullah…”

 

Sidoarjo, 21 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *