Catatan Harian

Lalu, Untuk Siapa Hijrahku?

Hijrah. Kata itu tak asing lagi di telingaku. Bahkan beberapa hari ini, hatiku dirisaukan dengan dua pertanyaan yang terkait dengannya.

“Benarkah Allah rindu?? Haruskah aku berhijrah??”

Mungkin bukan cuma aku, kerisauan ini juga kamu alami. Bahkan aku yakin, masing-masing dari kalian juga penah merasakannya. Kegusaran hati yang cukup dalam, hingga membuat kita tak tahu arah pulang.

Sementara kata “hijrah” sering terlontar untuk menyebut mereka yang awalnya tak  berhijab menjadi berhijab, dari berhijab yang ala kadarnya menjadi berhijab syar’i. Bisa juga kata “hijrah” digunakan untuk menyebut mereka yang awalnya memaki celana jeans lalu mengenakan rok, atau yang awalnya berhijab sebahu menjadi bercadar.

“Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tanganya. Dan seorang muhajir (orang yang brehijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis tersebut aku memahami. Bahwa hijrah yang sesungguhnya adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Mungkin selama ini aku terlalu sempit memaknai kata “hijrah”, yang hanya sebagai perpindahan tempat.

Nyatanya, hijrah yang sesungguhnya bukanlah hanya sekadar perpindahan tempat dari satu kota ke kota lain. Tapi lebih dari itu. Hijrah adalah sebuah proses perjalanan menuju rida Sang Maha Cinta.

Maka tidaklah salah, bila kata “hijrah” selalu tersemat pada mereka yang memilih berpindah dan meninggalkan sesuatu yang dinilai tidak baik. Mulai dari yang awalnya tidak berhijab menjadi berhijab, atau yang tadinya berpacaran kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai jomblo fi sabilillah.

Dalam hal ini memang tak ada yang salah. Yaa, secara kasat mata sama sekali tidak ada yang salah. Lalu, jika mereka bisa berhijrah, maka kenapa aku juga tidak melakukannya? Kalau mereka saja bisa, berarti aku juga bisa dong. Mereka saja mampu, itu artinya hijrah bukan sesuatu hal yang sulit kan??

Pertanyaan demi pertanyaan mulai membelenggu benakku. Tapi masih ada beberapa hal mengganjal di hatiku. Mungkin memang benar, hijrah itu mudah. Buktinya banyak yang memilih jalan itu, dan mereka mampu.

Namun apakah hijrah itu hanya ditunjukkan dengan perubahan penampilan saja? Aku rasa, tidak! Jika aku memaknai hijrah hanya sebatas perubahan penampilan, maka pemikiranku terlalu sempit untuk memaknai jalan ini.

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang tergantung apa yang diniatkan; barang siapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa niat hijrahnya kerena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari).

“Astagfirullah… lalu, untuk siapa hijrahku??”

 

Sidoarjo, 22 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *