Catatan Harian

Ketika Hijrahmu Untuk Dunia

“Lalu, untuk siapa hijrahku??”

Pertanyaan itu kembali membelengguku malam ini. Sejenak aku berpikir, sebenarnya apa alasanku untuk berhijrah? Apa yang bisa membuatku untuk istiqomah? Karena Allah, jodoh atau hanya untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia?

Satu per satu pertanyaan itu menghantuiku, hingga aku pun hanyut dalam keheningan malam. Dengan menembus dinginnya udara malam, aku mengambil air wudhu. Di sepertiga malam-Nya, aku datang dan bersimpuh.

Semua pertanyaan itu bukanlah hanya kegusaran hati semata. Bahkan aku yakin, pasti kalian juga pernah merasakannya. Munculnya seribu pertanyaan ketika memilih jalan yang berbeda, yakni hijrah.

Sebagian dari kita tentu berkata, “Yaa jelas karena Allah lah, masa iya karena jodoh?” lalu, hati kecilmu berbisik. “Apakah yakin karena Allah, bukan yang lain?”

Tak ada yang salah dengan niat hijrahnya seseorang. Kerena Allah, jodoh atau hanya untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia. Semua itu sah saja. Seperti yang telah tertulis indah dalam HR. Bukhari, “Sesungguhnya segala amalan itu (tergantung) dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya…”

Mungkin Sang Maha Cinta memberikan hidayah melalui seseorang, sehingga hati ini pun kagum padanya. Lalu, ingin memantaskan diri karena dia. Tapi satu hal yang perlu diingat, kelak diri ini akan terluka dan kecewa, jika pada akhirnya dia yang menjadi alasan berhijrah bukan jodoh kita yang ditakdirkan Tuhan.

Lantas, apa yang akan terjadi setelahnya? Apabila saat dikecewakan iman dalam diri ini belum kuat, bisa saja kita akan meninggalkan jalan hijrah dan kembali ke masa jahiliyah.

“Naudzubillah…”

Dengan anggapan, “Halah, ngapain juga aku repot-repot hijrah. Toh dia lebih memilih yang lain. Percuma aku berubah, nyatanya dia menikah dan berjodoh dengan orang lain.”

“Astagfirullah…”

Tak hanya perkara jodoh, bisa saja Sang Maha Cinta memberikan hidayah-Nya melalui sebuah ujian kehidupan yang berat. Seakan-akan diri ini tak mampu melewatinya. Dan sebagai pilihan terakhir kembali pada-Nya, dengan harapan Allah akan menolong kita serta mengembalikan yang telah hilang.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan niat hijrah. Karena segala segala sesuatu amalan tergantung dengan niatnya, dan dia akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.

Namun yang menjadi kekhawatiran adalah, ketika hijrah karena jodoh dan ternyata dia bukan jodoh kita, takutnya kita akan berbalik arah dan marah ke Allah. Atau apabila berhijrah agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan ternyata Allah menguji kita sekali lagi dengan mengambil semuanya, khawatirnya saat itu diri ini marah lalu menghujat Sang Pencipta.

“Astagfirullah…”

 

Sidoarjo, 23 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *