Catatan Harian

Sang Maha Cinta Menunggu

Hijrah memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk sampai di puncak, butuh sebuah proses dan perjalanan panjang. Ujian berupa batu kerikil, jalanan terjal dan berliku pun kerap mewarnai perjalanan ini. Bila beruntung dan mampu bertahan, barulah akan merasakan manisnya iman.

Ujian yang Allah berikan bukan datang tanpa tujuan. Kehadirannya akan menunjukkan seberapa kuat iman seseorang menapaki jalan hijrahnya. Ibarat amplop dan perangko, begitu lah ikatan iman dan ujian dalam kehidupan setiap hamba-Nya.

Untuk itu, dalam setiap perjalanan hijrah yang telah dipilih, harus dibarengi dengan niat yang lurus. Karena-Nya atau hanya untuk dunia semata?

Bisa jadi, seseorang berubah menjadi lebih baik untuk mendapatkan jodoh yang baik. Seperti yang telah Allah janjikan dalam surah An-Nur ayat 26, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”

Mungkin tak hanya aku, tapi bisa jadi kamu dan yang lainnya juga penah mengalami hal serupa. Sebuah ketakutan akan siapa jodoh kita? Akankah diri ini mendapatkan jodoh yang baik. Hingga akhirnya memutuskan untuk berubah menjadi yang lebih baik. Bila sudah begitu, tanyakan pada diri sendiri, “Untuk siapa hijrahku?”

Ada pula yang awalnya ragu menutup aurat dengan alasan tidak fashionable. Lalu ketika diri ini berdiri di depan cermin dan melihat lebih cantik mengenakan hijab syar’i, seketika itu juga langsung memutuskan untuk berhijab. Bila sudah seperti itu, lekaslah bertanya pada diri sendiri. “Lalu, untuk siapa hijrahku?”

Mungkin juga sebagain dari kita saat ini sedang menyimpan rasa pada lawan jenis, yang terlihat teduh karena aqidah dan akhlaknya. Sehingga diri ini pun termotivasi menjadi lebih baik. Yakni berusaha menjadi shalih atau shalihah. Lagi lagi, tanyakan pada lubuk hati yang terdalam, “Untuk siapa hijrahku?”

Yaa, hijrah memang tak semudah mengucap kata hijrah. Hal itu pun yang aku rasakan. Hati ini selalu bergejolak dengan beragam pertanyaan. Terlebih ketika dihadapkan dengan niat untuk berhijrah.

“Lalu, untuk siapa hijrahku?”

“…Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al Ahzab: 72). Yaa, aku memang makhluk yang bodoh lagi zalim. Betapa sering diri ini mengira sudah berada di atas kebenaran, nyatanya ada saja perbuatan yang ternyata itu sebuah dosa.

Alhamdulillah, bila sekarang dakwah sunnah telah semakin menggeliat. Namun pernahkah sejenak merenung. Tanyakan pada hati yang terdalam. Hijrah yang orang bilang memantaskan diri, itu tergerak untuk siapa? Lalu, menuntaskan hafalan Al-Qur’an untuk siapa? Menjaga dan menundukkan pandangan hanya untuk ukhti fulanah semata.

“Astagfirullah…”

Mungkin di antara kita, telah banyak membaca kisah seseorang yang Alhamdulillah telah hijrah, kerena termotivasi sosok shalih atau shalihah. Tak ada yang salah dalam usahanya menjadi lebih baik. Namun apakah sudah tepat menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah?

Sekali lagi, “Untuk siapa hijrahku?” lekaslah kembali, sesuai dengan jalan yang diridai-Nya. Sang Maha Cinta menunggu.

 

Sidoarjo, 24 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *