Catatan Harian

Berhijrahlah, Sebelum Tergerus dalam Kemaksiatan

Setelah menepis semua rasa takut dan keraguan yang bersarang dalam diri, apakah sampai di situ sudah cukup? Tidak! Itu belum cukup untuk meneguhkan hati dalam berhijrah. Jauh dari semua itu, ada satu hal yang harus diperhatikan. Yakin, iman.

Mengapa iman? Yaa, karena kekuatan iman setiap orang berbeda. Aku dan kamu, tentu berbeda tingkat imannya, meski kita sama-sama hamba-Nya. Ada tipe orang yang sekali saja mendapat hinaan dan cacian, ia langusng merasa rendah diri dan hina. Ada juga yang sekali mendapatkan cacian dan makian, langsung marah dan murka.

Selain dua tipe itu, masih ada satu tipe lagi yang ketika dihina berkali-kali, ia tetap bersabar dan tenang menahan amarah. Untuk itu, penting bagi kita untuk mengukur kekuatan iman yang ada dalam diri sendiri. Hal ini perlu dilakukan, agar tidak terseret semakin jauh dalam keruwetan dunia ini.

“Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628).

Lagi lagi, aku tercengang akan sebuah hadis. Dari situ aku belajar, betapa pentingnya memilah teman atau sebuah lingkungan. Mungkin selama ini aku terlalu nyaman dengan duniaku, hingga aku tak mengindahkan sekali pun adab Islam dalam bergaul.

Yaa, seharusnya aku mengukur diriku sendiri. Sekiranya berada dalam satu lingkungan yang tidak baik dan diri ini tak mampu memberikan pengaruh yang baik, maka segeralah untuk pergi. Berhijrahlah, sebelum tergerus dalam kemaksiatan.

Namun nyatanya, aku semakin hanyut dalam arus pergaulan itu. Hingga aku lupa diri. “Astagfirullahaladzim…” Lantas, teman atau lingkungan yang seperti apakah yang seharusnya aku cari untuk menguatkanku dalam berhijrah?

Sejutu atau tidak, teman dan lingkungan bisa menjadi guru dalam beribadah. Untuk itu, milikilah teman atau menetaplah dalam sebuah lingkungan yang bisa menaikan kadar keimanan kita. Atau carilah teman yang selalu bersemangat mengajak dalam kebaikan dan mengingatkan untuk senantiasa berada di jalan-Nya.

Memang tidak mudah meninggalkan teman atau lingkungan yang selama ini memberikan kita kenyamanan. Tapi bila semua itu menjauhkan kita dari-Nya, untuk apa dipertahankan?

Berat? Iya, aku juga mengalaminya. Yang terpenting adalah jangan pernah ragu untuk keluar dari lingkaran kemaksiatan. Jangan takut kehilangan teman, penghasilan atau kenyamanan yang selama ini telah kita dapatkan. Karena rahmat dan cinta-Nya lebih besar dari apa yang telah kita lepaskan.

“Bismillah…”

 

Sidoarjo, 28 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *