Catatan Harian

Hidayah itu Dijemput, Bukan Ditunggu

Hijrah memang bukanlah jalan yang mudah. Butuh istiqomah untuk bisa sampai di puncak. Itu pula yang aku rasakan ketika memilih jalan ini.

Waktu itu, aku duduk di bangku kelas 3 Seklolah Menengah Pertama (SMP) dan sudah kuniatkan untuk mengenakan hijab. Terlebih sekolahku dulu di Madrasah Tsanawiyah (MTs), aku pun berjanji akan berhijab di bulan Ramadhan.

Ketika aku mulai memakainya, semua mata tertuju padaku. Tak hanya itu, aku pun mulai menjadi bahan pembicaraan mereka. Mereka sempat mencibirku, “Nanti setelah puasa juga dilepas lagi hijabnya, sok alim.”

Awalnya aku berusaha cuek dan acuh terhadap penilaian mereka, tapi lama-lama hati ini terasa pilu. Lantaran tak kuat menahan cibiran mereka, aku kembali membuka hijabku.

Setelah lulus dari MTs, aku melanjutkan pendidikanku di MAN Pematangsiantar. Masa Orientasi Siswa (MOS) adalah agenda wajib yang harus diikuti oleh siswa baru, tak terkecuali aku. Selang beberapa bulan setelahnya, sekolah mengadakan pesantren kilat khusus untuk siswa kelas X.

Selama tiga hari tiga malam, aku dan teman-teman dibimbing oleh kakak-kakak dari myclub. Meski singkat, namun mampu mengetuk hatiku. Aku pun kagum dengan mereka. Selain jago menjadi mentor, mereka selalu berbalut dengan hijab syar’i dan tak pernah jauh dari Al-Qur’an.

Berada di tengah-tengah para mentor, aku merasa tenang. Adem rasanya hati ini, melihat penampilan mereka. Lalu, dengan berbekal ilmu yang aku dapatkan selama tiga hari tiga malam itu, kuberanikan diri untuk mengenakan hijab lagi.

Kali ini aku mencoba untuk bisa istiqomah. Ke mana pun aku melangkah, hijab ini selalu aku kenakan. Tak hanya itu, aku juga mulai rajin shalat jamaah dan bergabung dengan remaja masjid.

Di saat aku mulai yakin, ujian itu kembali menyapaku. Lagi dan lagi, mereka tidak menyukai perubahan penampilanku, yang mulai menutup aurat rapat-rapat. Apalagi ketika aku memutuskan mengenakan hijab syar’i, dan mencoba menghafal Al-Qur’an. Namun aku beruntung, waktu itu sekolahku full day. Berangkat pagi pulang petang, sudah menjadi kebiasaanku. Sehingga aku jarang berada di rumah mama, dan lebih banyak di rumah nenek.

Hingga akhirnya ketika aku kelas XII dan kembali ke rumah mama, aku sempat kaget dan bersyukur. Aku melihat beberapa temanku juga sudah berhijrah. Mereka mulai memakai hijab syar’i dan rok. Mereka pun juga sering mengikuti kajian. Alhamdulillah, aku turut bahagia atas perubahan teman-temanku.

Namun kebanyakan dari mereka yang memutuskan berhijrah, lebih memilih keluar kampung. Semua itu mereka lakukan semata-mata hanya untuk menjaga keistiqomahannya dalam berhijrah. Karena tak dipungkiri, cibiran “sok alim” itu akan selalu terlontar kepada mereka yang memilih berada di jalan ini.

Ada satu hal yang mendorongku untuk tetap berada di jalan ini, yakni ayahku. Waktu itu aku memang sempat buka tutup hijab, mungkin karena imanku belum yakin sepenuhnya. Tapi tidak, untuk kali ini! Sekarang aku memahami, bahwa memakai hijab itu sebuah kewajiban. Kerena menutup aurat adalah perintah dari Sang Pencipta.

Ujianku tak berhenti sampai di situ. Setelah keimanan yang sempat goyah ini berhasil kuyakinkan kembali, kini hijrahku ditentang keluarga. Beberapa saudara sepupuku ada yang tidak setuju, ketika aku memutuskan mengenakan hijab syar’i.

Bahkan ketika aku mencoba berdakwah di dalam keluargaku, mereka malah balik menyerangku. Tak jarang kata “sok alim” dan “sok suci” itu terlontar dari mulut mereka. Namun semua itu tak lantas membuatku menyerah. Aku pun mengingat nasihat guruku, bahwa kita harus bersabar dalam menghadapi apapun, apalagi dalam berdakwah.

Kegigihan dan kesabaranku pun berbuah manis. Perlahan tante yang tadinya suka memakai baju mini, sekarang lebih sering mengenakan baju yang longgar dan mulai berhijab. Tak hanya tante, saudara sepupuku pun sekarang sudah berhijab.

Bagiku, hijrah itu menuju sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya, membenahi diri dan mendekatkan diri pada Ilahi. Berusaha meraih ridha dan menggapai surga-Nya. Hijrah juga tidak menunggu hati kita siap. Karena hidayah bisa menyapa siapa saja. Hidayah datang karena dijemput, bukan ditunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *