Catatan Harian

Hijrah Cinta

Waktu itu usiaku 18 tahun, masih duduk di bangku kelas 2 Mu’alimien atau setara dengan SMA. Sebelumnya aku selalu belajar mengutakan diri dan menjaga jarak dengan lawan jenis.

Tapi serangan virus merah jambu itu berhasil menggoyahkan prinsipku. Hingga aku pun tak mampu membendungnya lagi. Awal aku mengenalnya, dikenalkan oleh saudara sepupuku sendiri. Dia adalah teman sekelas sepupuku di SMA-nya.

Aku beranikan diri untuk mengenalnya lebih jauh. Lalu aku jadikan dia teman berbagi cerita, hingga aku pun dibuat nyama olehnya. Dan di usiaku ke-19, pada akhir masa Mu’alimien, aku putuskan untuk saling mengucapkan kata cinta.

Dia hadir dalam hidupku, sebagai teman baikku. Aku pun bersyukur kepada Sang Maha Cinta, karena telah dipertemukan dengannya. Namun setelah pertemuan itu kekhawatiranku muncul, “Apa bisa dia menjadi ‘the only one’ untukku?” Aku pun memasrahkan urusan hatiku kepada-Nya.

Di satu sisi, hati kecilku berkata, jika ini bukanlah cinta. Namun dia sering meyakinkan, jika cinta memang harus bisa dibuktikan dengan nyata, bukan hanya sekadar kata-kata. Sebagai wanita biasa, aku pun sering luluh dan logikaku sering kalah dengan sebuah rasa, yang waktu itu aku sebut cinta.

Seiring berjalannya waktu, kedamaian itu tak bisa aku rasakan. Aku sempat mengirimkan pesan singkat, untuk mengakhiri kisah ini. Namun aku lah yang selalu memintanya untuk kembali.

Tujuh tahun pun berlalu. Setelah kami menyelesaikan pendidikan dan diterima di tempat kerja yang diimpikan, kami memberanikan diri untuk berbicara pada kedua orang tua. Waktu itu, kami telah sepakat untuk menyempurnakan separuh iman. Namun niat baik kami tak direstui oleh kedua orang tua.

Dalam perjalanan menuju langkah yang telah kami yakini, ternyata tidaklah mudah. Hingga akhirnya Allah tidak merestui kami untuk menikah. Saat itu, aku dihadapkan pada pilihan terberat dalam hidupku. Dan Allah memberi jalan keluar yang tidak pernah aku sangka. Allah yang menyadarkanku, jika selama ini cinta sejati yang tak pernah mati adalah cinta dari-Nya.

Aku pun mengerti, kenapa ketika menuju pernikahan aku dibuat ragu oleh-Nya. Mungkin itu adalah pertanda, jika cintaku selama ini telah salah arah. Karena aku telah menjemput cinta dengan jalan yang tak diberkahi oleh-Nya, yakni berpacaran.

Tepat di bulan Ramadhan, aku berani mengungkapkan segala resah kepadanya. Bahwa kami telah salah arah dalam menjalani cinta, yang seharusnya kami jaga sampai akad itu tiba.  Bismillah, aku mundur dari hubungan yang mungkin belum direstui semesta.

Rasa kecewa itu selalu menghantui, ketika aku tahu dia sudah berpindah ke lain hati dengan teman kantornya sendiri. Batinku, secepat itukah dia bisa berpindah ke lain hati dari keputusanku beberapa saat lalu?

Namun kecewa yang aku rasakan tak sebanding dengan dosaku, yang telah berani menduakan cinta-Nya dengan cintanya. Yang aku yakini, aku tak pernah takut kehilangan cinta seorang makhluk. Tetapi aku lebih takut kehilangan cinta Allah, karena terlalu berlebih mencintai makhluk-Nya.

Dan Allah lah, yang membantuku bangkit dari setiap rasa sakit. Sejak saat itu, aku tidak pernah membiarkan masa lalu mengusik hidupku. Kini aku menyadari, jika cintaku padanya telah melebihi rasa cintaku pada-Nya. Hingga aku merasakan kesengsaraan dalam mencinta, yang berakhir pada kekecewaan.

Dari sanalah aku belajar mengembalikan setiap rasa, mengorbankan cinta, hingga logikaku terbuka. Jika cinta sejati adalah cinta yang bisa mendekatkanku dengan Sang Pencipta, mendamaikan, menjadi penasihat dan penegur saat iman mulai luntur.

Aku hanya ingin kembali belajar mencintai-Nya terlebih dahulu, sebelum mencintai makhluknya. Sehingga tidak ada lagi cinta lain yang melebihi cintaku pada-Nya. Bukan cinta yang salah, hanya saja aku yang salah arah dalam mencinta.

Hijrah cinta memanglah tidak mudah, terlebih untuk bisa istiqomah. Aku hanya ingin hidupku menjadi berkah, dengan mengikuti segala perintah dan belajar menjauhi segala larangan-Nya. Salah satunya, tidak lagi berpacaran dengannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *