Catatan Harian

Pantaskah Aku Berhijrah? (2)

Sampai di suatu malam, saat itu tengah hujan deras. Karena ada kelas tambahan dan rapat redaksi untuk majalah sekolah edisi Desember, aku pun terpaksa pulang lebih larut dari biasanya. Jarum jam di tangan kiriku, menunjukkan pukul 8 malam, dan kaki ini baru saja melangkah keluar gerbang sekolah.

Lima belas menit berlalu, aku menunggu angkutan kota, tak ada satu pun yang melintas di depan sekolahku. Batinku pun mulai bertentangan, antara tetap menunggu angkutan atau jalan kaki menerjang derasnya hujan.

“Aku mau menunggu sampai berapa lama lagi? Hari juga semakin malam,” aku mulai menengok kanan kiriku, “Sudah tidak ada orang lagi, mungkin semua sudah pulang,” gumamku.

Melihat kondisi sekitar yang semakin malam semakin sepi, akhirnya aku memutuskan untuk segera pulang. Lebatnya hujan malam itu, aku terjang begitu saja, tanpa memikirkan kesehatanku. Waktu itu yang ada dalam benakku, bagaimana pun caranya aku harus sampai di rumah sebelum jam 9 malam.

Dengan perasaan was-was, aku percepat langkahku malam itu. Maklum jarak rumah dengan sekolah hanya sekitar 2 km, sehingga bisa ditempuh dalam waktu 45 menit dengan berjalan kaki. Karena tubuh ini sudah menggigil kedinginan dan ingin segera sampai rumah, aku memberanikan diri lewat jalan tembusan. Jalannya memang lebih sepi, tapi ini satu-satunya jalur alternatif untuk bisa segera sampai di rumah.

Satu meter, dua meter, jalanan yang ku lalui masih aman. Namun hati ini semakin was-was ketika sudah separuh perjalanan. Malam itu, aku merasa seperti ada yang mengikutiku. Aku mencoba menenangkan hatiku, “Ahh, itu hanya perasaanku aja. Bayangan hitam itukan bayanganku sendiri. Masak iya, takut dengan bayangan sendiri.”

Awalnya berhasil. Rasa was-was itu berangsur sirna. Tapi tak berapa lama setelahnya, aku mendengar ada derap langkah kaki yang mengikutiku. Aku percepat langkah kakiku, agar bisa segera keluar dari jalan sepi itu, dan mencari jalanan yang lebih ramai.

Prediksiku salah, dan kurang cepat langkahku malam itu. Perjalananku terhenti, karena dihadang oleh segerombolan pemuda mabuk. Naas, keberuntungan tak berpihak padaku malam itu. Aku gagal melarikan diri dari mereka.

Mereka yang berjumlah lima orang, malam itu, berhasil menyeret dan menyekapku di sebuah gudang kosong. Aku pun tak berdiam diri, suara ini hampir habis berteriak minta tolong. Tapi tak ada satu orang pun yang muncul. Tenagaku malam itu sudah hampir habis, untuk meronta dan melarikan diri. Dan semua usahaku sia-sia, aku gagal melarikan diri malam itu.

Satu per satu dari mereka mulai menyentuh tubuhku. Aku yang risih dengan perlakuan mereka, mencoba sekali lagi melawan. Namun semua itu semakin menjadikan mereka buas dan liar. Kali ini, mereka tak hanya menyentuhku, tapi juga menyiksaku.

Di gudang, aku melihat ada beberpa lilin yang mereka nyalakan tepat di sekitarku. Dengan sigap, aku tendang semua lilin itu, dan apinya membakar beberapa jerami yang tertata rapi di sana.

Mereka yang terkejut dengan kehadiran si jago merah, satu per satu pergi meninggalkanku sendirian di dalam gudang. Beberapa saat setelah mereka pergi, aku pun segera berlari menyelamatkan diri dari kobaran api. Dengan seragam putih abu-abu yang robek sana-sini, aku bergegas pulang, sambil menerjang derasnya hujan dan dinginnya udara malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *