Catatan Harian

Pantaskah Aku Berhijrah?

Aku memang terlahir di keluarga muslim. Namun tak lantas, semua itu menjadikanku seorang muslimah yang memiliki akhlak cantik. Bahkan aqidahku pun patut dipertanyakan. Aku benar-benar hidup sebagai seorang muslim yang fakir ilmu.

Ibuku hanya membekaliku ilmu agama semampunya. Sementara ayahku, tak pernah sedikitpun memperhatikan kami. Hampir setiap hari yang ia lakukan berjudi dan mabuk. Nafkah yang diberikan juga sekadarnya. Pertengkaran selalu mewarnai keluarga kami. Bahkan aku tak pernah merasakan keharmonisan sebuah keluarga.

Jika ada yang mengatakan, lingkungan membentuk kepribadian dan karakter seseorang, maka aku menyetujuinya. Tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang tidak harmonis, menjadikanku pribadi yang krisis identitas. Agamaku memang Islam, namun kepribadianku tak mencerminkan sosok muslimah, bahkan jauh dari kata sholehah.

Waktu itu, pergaulanku sangat bebas, tak ada batasan dari keluargaku. Ibu hanya berpesan, agar aku bisa menjaga diri dengan siapapun bergaul dan tidak boleh melanggar norma yang ada.

Waktu berlalu begitu cepat, aku mulai memasuki usia remaja. Banyak hal baru yang aku jumpai. Lantaran fakir ilmu, diri ini tak mengindahkan adab Islam dalam bergaul. Semua aku anggap sama, tak ada sekat antara teman perempuan dan laki-laki.

Diri ini benar-benar menjadi sosok yang merugi. Kecantikan serta keindahan tubuhku, yang seharusnya aku sembunyikan dan hanya untuk suamiku nanti, menjadi konsumsi setiap mata yang berjumpa denganku.

Begitulah aku menjalani hari-hariku, yang penuh dengan keabu-abuan, bahkan hitam pun turut mewarnainya. Semakin lama, aku semakin terbuai dengan keindahan dunia. Hingga diri ini terjebak dalam romansa cinta remaja.

Awalnya, aku hanya menganggap semua ini sebuah petualangan, untuk mendapatkan penyeimbang yang akan mendampingiku di masa depan. Tujuanku hanya sebagai penyemangat belajar dan teman berbagi.

Nyatanya, aku salah. Diri ini tak mampu membendung, setiap getaran yang ada dalam jiwa. Hasrat itu semakin kuat, hingga aku pun tergelincir dalam lingkaran maksiat. Tak dipungkiri, bagian dari apa itu yang dikatan zina sempat ku lalui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *