Catatan Harian

SEPULUH TAHUN, TERPENJARA DALAM SANGKAR (2)

Sejak malam itu, hati ini selalu gusar. Bergejolak tak menentu. Aku hanya takut, Allah marah padaku. Karena aku lebih memilih cinta pada makhluk-Nya, daripada mempertahankan kecintaanku pada-Nya.

Bila malam bisa memberikan ketengan pada setiap orang, maka tidak untukku. Sepanjang malam, aku selalu dihadapkan dengan perang batin, atas keputusan yang telah aku ambil. Tak bisa dipungkiri, aku sangat bahagia, bisa bersatu dengan seseorang yang ku cintai. Tapi di sisi lain, aku takut Allah murka.

Mau berbalik arah dan kembali keperdebatan sore itu, juga tak mungkin. Bila aku mengurungkan pernikahan itu, tentu akan banyak hati yang terluka. Bahkan bisa memicu permusuhan antara dua keluarga, hanya karena kebimbangan hatiku.

Seiring berjalannya waktu, statusku pun berubah. Bukan lagi sebagai putri Keluarga Wibowo, melainkan Nyonya Peter. Setelah menikah dengannya, tepat pada 1999 lalu, aku resmi memeluk Katolik.

Meski telah menjalani kehidupan yang aku inginkan, namun hati ini masih saja gusar. Ada sesuatu yang belum bisa sepenuhnya diterima oleh hati kecilku. Ia pun kembali bergejolak, karena sejak awal aku memang setengah hati memeluk Katolik.

Tak jarang, aku mencuri waktu untuk mengerjakan sholat. Sembari menghibur diri, aku selalu menanamkan beberapa hal dalam benakku, “Ini hanya sementara, semua yang aku lakukan saat ini tak lebih dari sekadar berpura-pura. Karena aku sekarang sedang bersandiwara.”

Entah apa yang terjadi padaku waktu itu? Hingga doktrin yang aku ciptakan sendiri, tak mampu membuatku keluar dari belenggu itu. Alih-alih berpura-pura mengikuti suami, agar bisa menariknya secara perlahan untuk memeluk Islam, nyatanya aku semakin hanyut terbawa ombak asmaranya.

Karena sejak awal pernikahan komitmennya mengikuti suami, mau nggak mau aku semakin tertarik memeluk Katolik. Waktu itu, aku juga sempat mempelajari lebih dalam, tentang keyakinan yang baru ku jalani. Tapi saat berdoa secara Katolik, hati ini masih belum bisa tenang.

Meski hatiku selalu bertentangan, namun aku tak punya pilihan, selain tetap melanjutkan hidup. Perlahan tapi pasti, aku pun mulai terbiasa dengan semua perubahan ini. Dan hanyut semakin dalam memeluk Katolik.

Awalnya, aku rasa tak akan mampu menerima dan menjalani kehidupan baruku. Nyatanya aku salah, kasih sayang dan cinta suamiku mampu memberikan rasa nyaman, yang selama ini tak pernah aku dapatkan dalam keluargaku. Hingga anak ke duaku terlahir di dunia, dan aku pun semakin jauh dari Allah.

Kehidupan yang semula baik-baik saja bak surga, berubah menjadi neraka. Allah selalu memiliki cara yang unik dalam mencintai setiap hamba-Nya. Ketika aku semakin jauh dari Allah, usaha baju yang selama ini aku rintis mulai dari nol, hancur seketika.

Tiba-tiba saja usahaku jatuh, dan aku mengalami kebangkrutan. Seketika itu juga aku terlilit hutang. Mungkin itulah cara Allah mengingatkanku, agar kembali ke jalan yang diridhoi-Nya.

***

Tepat pada 2009 lalu, aku mulai menyadari kesalahan yang telah ku lakukan selama beberapa tahun silam. Tak seharusnya aku menjalani kehidupan dengan setengah hati, antara Katolik dan Islam.

Setelah mendapatkan saran dari beberapa kiai, akhirnya aku memantapkan hati untuk kembali memeluk agama Islam. Aku pun mulai mengerjakan sholat dan belajar ngaji. Meski harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi dari suamiku, tak menyurutkan niatku untuk kembali di jalan Allah.

Hingga di tengah perjalanan, mukenah dan Al Qur’an kecil yang ku simpan rapi di dalam lemari, ketahuan oleh suamiku. Seketika itu juga, dia langsung marah dan membuang mukenahku. Aku pun sering mendapatkan perlakuan kasar darinya.

Untuk bisa menjalankan syariat Islam, aku harus berpura-pura di hadapannya, dan membuatnya percaya bahwa diriku telah kembali memeluk Katolik. Sholat, ngaji, puasa, semua itu aku lakukan secara sembunyi-sembunyi.

Di tahun 2011 lalu, aku memutuskan bercerai dengannya. Tapi tiba-tiba aku urungkan niatku untuk mengakhiri rumah tanggaku, setelah aku tahu ada si kecil di perutku, yang waktu itu sudah berusia dua bulan.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *