Catatan Harian

SEPULUH TAHUN, TERPENJARA DALAM SANGKAR (3)

Setelah bertahun-tahun menjalani hidup dengan kepura-puraan, tepat pada Ramadhan 2016 lalu, sepulang dari i’tikaf, tak ada lagi keraguan dihatiku untuk mengakui, bahwa aku telah memeluk agama Islam. Keberanian itu muncul setelah membaca surat Ali Imran, dan akupun merasa yakin.

Tak hanya kemarahan sang suami yang aku dapatkan, namun anak-anak juga turut menjadi korban pertengkaran kami. Setelah semua kebenaran itu terungkap, suamiku meninggalkanku begitu saja bersama anak-anak.

Bahkan anak pertamaku ikut menyalahkanku. Sempat terucap dari bibirnya, “Gara-gara ibu masuk Islam, kita ditinggal ayah dan tidak terurus.”

Jadi ujianku waktu itu, benar-benar luar biasa. Bukan hanya dari perekonomian yang berubah 360 derajat, tapi anakku juga memberontak dan berani melawan ibunya sendiri.

Memang mahal, harga yang harus aku bayar untuk kembali di jalan Allah. Ujian demi ujian datang dalam kehidupanku. Mulai dari anak, materi, hingga nyawa pun menjadi taruhannya.

Saat ini aku sedang menjalani proses perceraian. Ketika proses ini sudah selesai, mau tidak mau, siap tidak siap,aku harus bisa move dan mandiri. Sebenarnya aku juga kasihan dengan anak-anakku, karena mereka masih membuthkan kasih sayang ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi? Aku percaya, Allah akan menunjukkan jalan padaku, kemana aku harus melangkah, setelah ini?

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *