Catatan Harian

SEPULUH TAHUN, TERPENJARA DALAM SANGKAR

Ibarat burung dalam sangkar, seperti itulah yang aku rasakan selama lebih dari sepuluh tahun ini. Hatiku terus bergejolak dan bertentangan, antara logika dan nurani.

Ingian rasanya aku memeluk agama, yang aku yakini. Namun apa daya, aku tak punya cukup kekuatan untuk menentang sang suami. Ketika aku memantapkan hati untuk menikah, sejak saat itulah aku memeluk Katolik.

***

Dulu agamaku Islam. Aku terlahir di keluarga muslim, Shintia Putri, itulah nama pemberian dari kedua orang tuaku. Namun sayangnya, nasibku tak seberuntung anak-anak yang lain.

Memang benar, sejak kecil agamaku Islam, dan aku terlahir dari keluarga muslim. Namun tak lantas, semua itu menjadikanku seorang muslimah, yang memiliki akhlak cantik. Bahkan aqidahku pun patut dipertanyakan, waktu itu. Aku benar-benar hidup menjadi seorang muslim, yang fakir ilmu.

Waktu terus berlalu, dan aku mulai memasuki usia remaja. Banyak hal baru yang aku temui, dan aku pun mulai mengenal cinta. Orang tuaku tak pernah membatasiku dalam hal bergaul. Aku dibebaskan memilih siapa saja, yang akan menjadi temanku.

Banyak teman lelaki yang berkunjung ke rumah. Entah itu hanya sekadar belajar kelompok, atau bersilaturahmi dengan orang tuaku. Aku tahu, di antara mereka ada yang menaruh hati padaku. Memang banyak yang datang dan pergi dalam hidupku. Namun waktu itu, hatiku sudah terpaut pada satu nama, dia yang menjadi pelabuhan terakhir cintaku.

Sejenak aku merenung, tentang sebuah rasa, yang aku anggap ini fitrah. Aku dan dia, yang saling mencinta, dan ingin menyempurnakan. Kami pun berharap bisa hidup bahagia, layaknya insan lain, yang sedang dimabuk cinta. Waktu itu, aku sempat berpikir, cinta tak pernah salah. Merekalah yang salah, yang menganggap ini cinta terlarang.

***

Putih abu-abu telah berlalu, aku pikir rasa itu sudah mati. Bahkan tak pernah sekali pun, aku berangan bisa berjumpa kembali dengannya. Telah ku relakan rasa itu sirna, terbawa hembusan angin yang entah ke arah mana ia pergi.

Tapi ternyata aku salah. Sekeras apapun aku berlari, sekuat apapun usahaku menghapus kenangannya, hati ini tetap miliknya. Rindu ini masih saja memanggil namanya.

Bukan karena aku menutup hati, atau takut merajut kasih. Yang datang dan pergi, lalu singgah di hati pun banyak. Namun apa daya, hati tak pernah bisa dibohongi, karena ia tahu ke mana harus berlabuh.

Hingga takdir mempertemukan kembali aku dengannya, ketika usiaku beranjak dewasa. Perlahan tapi pasti, rasa yang telah bertahun-tahun aku tinggal mati, hidup kembali. Aku pun tak kuasa menolak setiap getaran, yang menghampiri. Diri ini seakan tak berdaya, membendung setiap rasa yang bergejolak dalam jiwa.

Bahkan aku sempat bertanya pada Sang Maha Cinta. Aku dalam sujudku, sementara dia dalam kekusyukan dekapan tangan dan rosarionya.

“Apakah mencintai seseorang yang bukan bagian dari umat-Nya, adalah sebuah kesalahan? Cara kita berdoa dan memuja Tuhan kita, memang berbeda. Lantas apakah kita tak berhak untuk bersama? Sementara kita tak pernah saling menyakiti,” semua pertanyaan itu membelengguku.

Seiring berjalannya waktu, aku pun semakin hanyut dalam deburan ombak asmaranya. Ketika ia datang ke rumah dan menemui ayahku, aku hanya terdiam dan membisu.

Batin ini kembali bergejolak, antara menerima pinangannya atau tidak. Aku memang menyayanginya, tapi bagimana hubunganku dengan Sang Pencipta? Perdebatan panjang pun, mewarnai sore itu.

Tak jarang keheningan menyelimuti perbincangan kedua keluarga kami, di ruang tamu. Senja mulai beranjak pergi, dan berganti malam. Sinar rembulan pun mulai berbisik padaku, sampai kapan perdebatan ini akan berlansung, seakan tak berujung?

Aku melirik jarum jam di tangan kiriku. Tak terasa lima jam berlalu tanpa keputusan. Aku tak mungkin membiarkan banyak hati terombang-ambing akan sebuah rasa, yang waktu itu aku yakini sebagai fitrah. Dengan memantapkan hati, aku putuskan untuk menerima pinangannya, dan memeluk Katolik.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *