Catatan Harian

Agar Tak Salah Alamat

Hijrah. Kini aku mulai memahami istilah itu dengan makna lain. Jika sebelumnya hanya terbatas pada perpindahan tempat, maka tidak untuk sekarang.

Bagiku, hijrah adalah sebuah proses kembali kepada fitrahnya. Kembali menjalani kehidupan sesuai syariat-Nya, berusaha mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta menjadi lebih baik lagi. Yaa, mungkin selama ini aku terlalu acuh dengan abad-abad yang ada dalam Islam.

Seperti yang telah tertulis indah dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah”.

Namun ada saja yang membuat hati ini sedih, saat memilih jalan ini. Aku hanya takut, hijrahku gagal dan tidak lagi istiqamah atas nama agama. Aku takut, ketika diri ini tak mampu melewati ujian dalam perjalanan hijrahku, akan kembali pada lingkaran maksiat itu.

Untuk itu, sebelum lebih jauh aku melangkah dalam jalan ini, satu hal yang harus aku lakukan. Yakni, menata niat dan menyiapkan hati dalam berhijrah. Karena niat adalah pondasi awal kita, agar tidak salah alamat.

Mengapa demikian? Karena setidaknya ada dua macam arti hijrah yang harus kita ketahui sebagai umat Islam. Pertama, hijrah untuk meninggalkan semua larangan-Nya dan melaksanakan semua perinta-Nya.

Kedua, hijrah dalam arti berpindah tempat dari suatu negeri kafir (non muslim) ke negeri Islam. Karena dalam negeri tersebut umat Islam mendapat tekanan, ancaman dan kekerasan, yang menjadikan mereka tidak memiliki kebebasan dalam berdakwah dan beribadah.

Hijrah yang kedua ini pernah dipraktikkan oleh Rasulullah dan umat Islam. Yakni berhijrah dari Mekkah ke Yarsib pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijrah, bertepatan dengan tanggal 28 Juni 622 M.

Hijrah tak sekadar hijrah, begitu juga yang dilakukan oleh Rasulullah dan umat Islam waktu itu. Mereka memiliki dua tujuan dalam perjalanan hijrahnya dari Mekkah (negeri kafir) ke Yarsib (negeri Islam).

Pertama, beliau hendak menyelamatkan diri dan umat Islam dari tekanan, ancaman, dan kekerasan kaum kafir Quraisy. Bahkan waktu itu, ketika Rasulullah meninggalkan Mekkah, rumahnya telah dikepung oleh kaum kafir Quraisy yang bermaksud untuk membunuh beliau. Dan kedua, agar beliau mendapatkan keamanan dan kebebasan dalam berdakwah serta beribadah. Sehingga dapat berjihad secara maksimal di jalan Allah, untuk menegakkan Islam.

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (QS. An-Nahl: 41-42).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *