Catatan Harian

Pulang ke Kampung Halaman

Dunia ini hanya sementara, tak ada yang abadi. Aku, kamu dan mereka pasti akan kembali pada-Nya. Seorang mu’min yang telah lulus menyelesaikan seluruh pemeriksaan di yaumul hisab (hari perhitungan amal), barulah ia diizinkan Allah memasuki Al-Jannah (surga).

Tak akan diizinkan seorang pun memasuki surga-Nya, apabila masih menyisahkan permasalahan dengan sesama hamba-Nya, walaupun ia tak lagi memiliki permasalahan dengan Allah. Karena pada saat itu, semua dosanya yang bersifat hablun minallah telah diampuni Allah. Tetapi ia masih mempunyai permasalahan hablun minannaas dengan sesama manusia.

Untuk itu, ia ditahan di suatu temnpat yang dekat sekali dengan baabul-jannah (pintu surga). Di sana ia harus menyelesaikan berbagai perkara yang tersisa dengan sesama manusia. Barulah setelah ia bisa memasuki surga-Nya.

Seperti yang telah tertulis dalam hadis riwayat Ahmad no. 10673, “Orang-orang yang beriman pada hari Kiamat selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di jembatan antara surga dan neraka, lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain karena kezhaliman mereka waktu di dunia, sehingga setelah mereka dibersihkan dan telah suci, maka barulah mereka diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia.”

Dalam hadis di atas terdapat sebuah kalimat, “ditahan di jembatan antara surga dan neraka”. Kalimat ini menggambarkan masih adanya masalah yang menggantung, sehingga orang-orang beriman itu belum bisa masuk ke surga-Nya. Oleh karena itu mereka tertahan dan dituntut segera menyelesaikan permasalahan, antara dirinya dengan orang yang pernah ia zalimi.

Yaa, surga adalah tempat yang hanya bisa dimasuki oleh hamba-hamba Allah yang telah bersih dari segala dosa. Baik dosa kepada Allah, maupun dosa sesamanya. Untuk itu, masing-masing dari kita tentu selalu mendambakan ampunan dari Allah. Karena ia memahami, jika ia masih mempunyai dosa maka ia tak berhak memasuki surga-Nya.

Di sisi lain, seorang yang beriman juga sangat khawatir, apabila ia terlibat dalam sebuah perbuatan yang menzalimi sesamanya. Karena ia pun mengerti, bahwa mengharapkan maaf dari sesama manusia seringkali lebih sulit daripada ampunan Allah, Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Surga memanglah benar-benar kampong halaman sejati orang-orang beriman. Sungguh akan sanagat bahagia bila seseorang dapat memasuki pintu surga, lalu ia bisa berkumpul kembali bersama keluarga dan anak keturunannya.

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur [52]: 21).

“Yaa, Rabb.. Lalu bagaimana dengan diri ini yang penuh dengan lumuran dosa? Pantaskah aku menggapai surga-Mu? Untuk kembali berpulang pada kampung halamanku.”

Berhijrahlah! Allah rindu. Dalam surat cinta-Nya Allah berpesan, “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” (QS. Qaf [50]: 32-34 ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *