Catatan Harian

Berbagi Itu, Memberi yang Bermanfaat

Saya merasa, ini adalah panggilan yang sudah menjadi kewajiban saya, sebagai muslim tentunya. Saya tidak mau mengesampingkan urusan agama, untuk sesuatu yang duniawi.

Untuk itu, di setiap kehidupan saya di dunia, saya upayakan tidak meninggalkan apa syariat-Nya dan sebagaimana teladan junjungan saya, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Itulah sebabnya saya berbagi, saya berdakwah.

Kisah ini di mulai, ketika saya adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas yang cukup besar di Surabaya. Universitas terbaik no 10 se-Indonesia, dari data UniRank tahun 2018. Saya menempuh pendidikan D3 Teknik Kesehatan Gigi, di Fakultas Kedokteran Gigi. Selain kuliah, saya juga aktif di organisasi kerohanian Islam.

Di organisasi itu, saya tak hanya bertemu dengan orag-orang baru, tapi juga pengetahuan dan pengalaman mereka tentang Islam, yang lebih dalam ketimbang saya. Dari situ, saya jadi lebih aktif mengikuti kajian-kajian daripada saat SMA dulu. Namun demikian, hati saya masih belum terketuk untuk berpenampilan syar’i. Saya masih menggemari celana jeans dan jilbab yang tidak seluruhnya menutup dada.

Sampai suatu ketika, ada kejadian yang membuat hati saya tersentak untuk mengubah cara saya berbusana. Merantau dari Lamongan ke Surabaya untuk berkuliah, membuat saya harus indekos sebagai tempat singgah. Kebetulan di tempat kos itu, ada teman saya di kampus yang juga mengikuti organisasi kerohanian Islam.

Berbeda dengan saya, ia sudah lebih dulu memilih untuk berbunasa syar’i. Maka, ia sering mengingatkan saya untuk segera berkerudung dan berpakaian panjang, seperti dirinya. Katanya, hal itu harus dilakukan untuk mawas diri. Tapi, saya lebih sering lagi mengelak nasihatya. “Nanti dulu lah,” begitu pikir saya.

Hingga pagi itu, seperti biasa, dari kosan, kami berjalan kaki menuju ke kampus. Hari itu jalan raya sedang sangat sepi, nampak jelas di kedua mata saya. Sampai di jalan raya, kami hendak menyebrang. Namun, saat saya dan teman saya hendak menyebrang jalan, tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang melaju dengan sangat cepat. Si pengendara itu, hampir menyerempet dan nyaris menabrak saya. Beruntung, teman saya menyeret saya dengan cepat. Sehingga saya selamat.

Entah kenapa, kejadian itu seolah menggetarkan hati dan pikiran saya. Saya jadi ingat, bahwa tidak ada yang tahu akan berapa lama hidup manusia di dunia. Kalau saya tidak memulai untuk bertaubat sekarang, lalu kapan lagi? Untuk apa ilmu yang saya pelajari? Kalau hanya akan ada di dalam ingatan saya saja, tanpa pernah saya berusaha untuk mengaplikasikannya dalam keseharian saya. Sejak saat itu, saya mulai menekadkan diri untuk berpakaian syar’i dan memulai membagikan apa saja yang saya ketahui tentang Islam, juga kebaikan-kebaikan yang diajarkan di dalamnya.

Sebab, tidakkah membagikan sesuatu yang baik, akan bernilai baik juga? Terlebih apabila apa yang kita bagi itu bisa bermanfaat untuk yang menerima. Berbagi yang wajib dalam Islam, sudah diatur dengan adanya zakat fitrah dan zakat mal. Namun bagi saya, ada hal lain di luar dua yang wajib itu, penting untuk dibagi. Ialah ilmu.

Semenjak mengubah penampilan, saya jadi lebih percaya diri untuk membagikan ajaran-ajaran Islam. Sebab, saya merasa hal itu menjadi tambahan bekal yang kuat. Selain memiliki materi yang saya kumpulkan dari organisasi di kampus dan kajian-kajian, saya juga memiliki pengalaman pribadi. Apa yang diri saya alami.

Seperti teman satu kos saya, saya jadi semangat menasehati teman-teman saya, apabila mereka melakukan sesuatu di luar yang diajarkan-Nya. Hal ini tentu tidak berjalan mulus. Ada beberapa yang mengolok-olok. Bahkan ada yang bilang, fanatiklah – sok-sokan mirip Teh Ninilah (Istri pertama A’a Gym) – sok-sokan ustadzahlah, dan masih banyak lagi.

Tak ada yang tak sakit hati disebut seperti itu, padahal dalam diri ini hanya berniat menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Namun, saya tidak membiarkan kesakitan itu bersarang terlalu lama. Caranya? Saya anggap perkataan mereka itu adalah doa. Diambil yang baik-baik saja. Siapa tahu kelak saya benar-benar bisa menjadi da’iyah seperti Teh Nini? Aamiin, Wallahualam.

Ditengah aral yang ada, saya tetap semangat untuk membagikan ilmu agama dan pengalaman yang saya miliki. Bahasa kerennya, dakwah. Saya melakukannya tanpa rasa takut, khawatir, atau rasa sedih apabila apa yang saya bagikan tidak diterima. Saya senang saja melakukannya, seperti ada bisikan dari hati, bahwa ini sudah menjadi kewajiban saya, berbagi kepada sesama muslim.

Dakwah yang awalnya hanya saya sampaikan kepada teman sepermainan, kini mulai berani saya sampaikan kepada khalayak yang lebih luas. Dengan beberapa teman, saya membentuk komunitas yang bernama Cafe Dakwah. Bersama komunitas ini, saya banyak membagikan segala hal mengenai Islam yang saya ketahui, kepada para remaja muslim, para akhwat khususnya.

Tak ada yang saya harapkan dari berbagi ilmu yang saya miliki ini, selain doa semoga apa yang saya berikan, dapat menjadi manfaat dan bekal bagi penerimanya, untuk menjalani kehidupan di dunia serta di akhirat. Sebab bagi saya, ilmu adalah sesuatu yang apabila kita berikan tidak akan pernah hilang. Apalagi tentang ilmu agama Islam, yang dapat menjadi penuntun pemiliknya, agar mendapatkan kemuliaan di akhirat kelak.

Selain itu, tidakkah ilmu yang bermanfaat merupakan amalan yang tidak akan pernah  putus kendati yang si pemberi sudah meninggal dunia? Jadi, mari bagikan ilmu apa saja yang kamu miliki, walau setitik. Insya Allah, hal itu nantinya akan bermanfaat untuk yang kau beri dan untuk dirimu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *