Catatan Harian

Cadarku, Pembatas Diriku

Perasaan ini tak pernah terjadi sebelumnya. Hari itu tiba-tiba muncul rasa tidak nyaman, ketika ada sepasang mata lelaki yang mengarah padaku. Dan sejak saat itu, aku memutuskan bercadar.

Perjalanan panjang ini dimulai dari Ramadhan, dua tahun lalu. Waktu itu aku sering menonton film pendek di chanel film maker muslim. Dari sekian banyak film yang aku tonton, koleksinya lebih banyak bercerita tentang mencintai Al-Qur’an dan Islam. Selain itu, video kajian Islam dari Ustad  Sali Khalifah dan Ustad Felix juga mulai kugemari.

Aku ingat betul, dalam salah satu videonya. Ustad Felix berkata, ketika pacaran itu diharamkan, maka dibuatlah pacaran syariah. Dia menjelaskan, pacaran syariah dibuat seolah-olah pacaran itu menjadi boleh karena di pinggir masjid, dimulai dengan bismillah dan berakhir dengan hamdalah, pacaran hanya saat Ramadhan; tarawih bersama. Padahal alasan semacam ini tidak menjadikan maksiat menjadi boleh, menurut Ustad Felix, dalam Islam kehidupan laki-laki dan perempuan itu terpisah.

Tausiahnya dalam video itu, membuat hatiku terenyuh. Lantas, kusudahi hubungan tak halalku, yang sudah berjalan selama setahun. Hal ini memang tak mudah, namun semua itu tak kujadikan sebagai beban. Kuserahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Kuniatkan semuanya karena Allah.

Satu tahun setelahnya, seorang kakak kelas di tempatku berkuliah, Universitas Muhammadiyah Surabaya, membawaku pada sekolah khusus perempuan yang ada di kawasan Ampel. Di sana aku banyak belajar tetang ilmu agama, dan juga ekstra berenang, berkuda serta memanah.

Aku pun dipertemukan dengan perempuan-perempuan shalihah dari beragam usia. Kebanyakan dari mereka menggunakan cadar. Hati kecilku mulai terusik, dan kuberanikan diri bertanya pada mereka. Sebenarnya apa yang membuat mereka memantapkan diri untuk bercadar?

Salah seorang dari mereka menjawab, bercadar itu sunnah, terserah kita mau memakai atau tidak. Jika di lingkungan kita tidak mendukung atau memungkinkan untuk bercadar, maka sebaiknya jangan. Mereka cenderung menyarankanku jangan bercadar dulu.

Perbincanganku dengan mereka mengenai cadar, sangat menarik buatku. Tapi semua itu belum menggerakkan hatiku untuk bercadar. Qadarullah, menghantarkanku pada kemantapan hati. Pertemuanku dengan dua teman laki-lakiku lah yang membuatku mantap, untuk mengenakan kain penutup wajah di bawah garis mataku.

Saat itu, kami sengaja bertemu untuk membicarakan suatu usaha. Kami berencana merintis usaha layanan transportasi online yang syar’i. Dari pertemuan-pertemuan itu aku merasakan kegelisahan yang tidak biasa. Ada perasaan tidak nyaman, ketika aku harus bertatap mata dan berbincang dengan mereka tanpa ada yang menghalangi wajahku.

Sepulang dari pertemuan itu, aku memutuskan mengenakan cadar di wajahku. Waktu itu, kakak pertamaku terkejut dengan keputusanku. Tetapi ia tidak salah, karena dirinya memiliki seorang kakak ipar yang bercadar, dan merupakan salah satu dari anggota teroris yang sudah tertangkap. Pengalaman itulah yang membuatnya trauma, dan  memiliki presepsi tersendiri tentang cadar.

Sebelum bercadar, aku terlebih dulu menanyakan pendapatnya. Tampaknya ia kurang setuju, karena pengalaman pribadinya. Namun tak lantas hal itu mengubah langkahku. Aku tetap teguh dengan cadarku karena Allah. Dengan melakukannya karena Allah, aku berharap keputusan ini tidak menyakiti hati siapapun. Beruntung, ayah ibuku dapat berlapang dada, menerima keputusanku.

Bagiku bercadar merupakan salah satu upayaku memperbaiki diri, dalam proses hijrahku. Ini adalah sunnah, dalam bahasa arab, sunnah berarti baik dilakukan dan rugi apabila tidak dihiraukan.

Ada yang berpendapat, bersihkan dulu hatinya baru rubah penampilannya, namun tidak bagiku. Berhijrah tidak mengharuskan kita langsung menjadi putih bersih. Orang-orang yang berhijrah itu, berproses. Hijrah itu gampang, istiqomahnya yang susah. Melakukan apa saja yang dianjurkan oleh agama secara terus menerus, meski sedikit, bahkan tak ada satu orang pun yang melirik.

Cadar adalah pembatas diri. Jika dalam kata, ada yang namanya baik dan buruk, maka dalam sikap juga harus diamalkan. Bagiku, pembatas itu memang harus ada. Konkretnya, dalam Islam antara laki-laki dan perempuan, keduanya memang dibatasi.

Cadar hanyalah sebuah tabir, yang dapat menjaga batasan itu. Namun bukan ini pasti baik, hanya tidak ada salahnya berusaha menjadi baik. Sampai detik ini, aku bercadar dan aku tidak pernah merasa sudah menjadi baik.

Setiap hari masih ada yang perlu aku perbaiki. Maka kupertahankan kerudung dan jubah panjang, serta kain penutup separuh wajahku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *