Catatan Harian

Di Balik Hijab Panjangku

Mataku terhenti pada surah Al-Ahzab ayat 59, “Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Seketika ayat ini membuat hati dan ragaku bergetar. Keringat dingin mengucur deras dan tanpa sadar akupun tergugu saat membacanya. Karena saat itu aku masih membiarkan rambutku tergerai, bajuku pun bahkan lebih sering menyerupai lelaki. Akupun lebih sering berkumpul dengan teman-teman lelaki dan terkadang bicara kasar. Padahal aku sudah baligh terhitung sejak setahun sebelumnya, selepas kerusuhan reformasi melanda.

Demi membaca surah ini, aku bercita-cita menjadi istri orang mukmin, ingin agar tidak diganggu, ingin pula terjaga dari fitnah. Yaa, aku tergerak untuk berhijab. Namun perjalanan rupanya tak semulus yang aku bayangan.

Tahun 1990an, pengguna hijab belum sebanyak sekarang, terlebih di sekolah negeri. Satu kelas hanya 1 atau 2 orang saja yang menggunakan dan itu pasti anak kiai atau pemuka agama setempat. Sedangkan aku? Aku bukan anak kiai.

Rasa rindu menggunakan penutup kepala seperti saat masih sekolah di TK Islam atau saat memperingati hari besar Islam kerap melandaku, sebelum aku membaca surah Al-Ahzab ayat 59. Ayat itu telah menyeret hatiku untuk merasakan kegalauan luar biasa untuk menuju pintu hijrah dari hidayah-Nya.

Dengan penuh rasa penasaran aku menanyakan pada teman yang sudah berhijab, apa alasan mereka memakainya? Ternyata kebanyakan karena perintah orang tua. Mirisnya, diluar sekolah mereka melepas hijabnya. Hatiku pun semakin galau.

Sedikit demi sedikit aku menyiapkan diri agar pantas dan siap mengenakan hijab. Selain mulai membeli buku-buku agama, aku pun mulai memantaskan diri dengan mengaji dan berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an untuk yang pertama kali.

Takdir pun mempertemukanku dengan aktivis dakwah di kajian keputrian, yang menceritakan kisah dukanya mengawali dan mempertahankan hijab di era orde baru. Waktu itu, hijab dan bajunya dibakar bahkan diusir dari rumah, karena dianggap Islam radikal.

Subhanallah. Apakah nyaliku ciut? Tidak! Kata Ustadzah tersebut, cintanya kepada Allah-lah yang senantiasa memberi kekuatan dan meyakini, bahwa Allah pasti akan membantu hamba-Nya yang berjalan tertatih ke arah-Nya. Maka, aku pun semakin yakin.

Karena aku belum berani menyampaikan keinginanku pada Bapak, aku membuat inisiasi memakai baju tertutup sedikit demi sedikit, agar keluarga tidak kaget dengan perubahanku. Aku meminta Ibu untuk menjahitkan baju seragam baru, rok panjang di bawah lutut dan baju berukuran 1 nomor di atas ukuranku seharusnya. Sehari-harinya kupakai jaket warna senada dengan rok, kaus kaki panjang selutut serta topi favoritku. Hal ini kulakukan sampai lulus SMP.

Ketika aku akan masuk SMA dan harus berganti seragam, aku memberanikan diri untuk bicara pada Bapak. Aku sudah siap untuk bersitegang lagi, seperti saat aku minta masuk TPA dulu. Entahlah, kadang aku heran. Mengapa justru orang tua sendiri, yang menjadi penghalangku untuk mendalami agama?

Bapak jarang sholat, dulu. Itu fakta terjelas yang aku tahu. Dan Bapak yang tidak bisa mengaji pun jelas ada hubungannya dengan fakta pertama. Maka, dengan kedua fakta tersebut jelas Bapak tidak ada gambaran untuk membimbingku, atau sekadar mengijinkanku belajar agama. Setelah dibantu bujuk rayu Ibu, Bapak mengijinkanku masuk TPA.

Ketika niatku memakai hijab sudah terbaca oleh Bapak dari gelagatku ketika keluar selain ke sekolah, demikian ilustrasi adu argumen level 2 yang kuingat. “Macam-macam saja pakai kerudung. Sudah cantik pakai jeans dan kaos itu. Buat apa pakai seperti itu, Bapak saja tidak menyuruh Ibu, apalagi kamu pakai hijab. Tidak wajib.”

“Bapak salah! Ini bukan masalah cantik atau tidak, Pak. Ini kenyamanan dan keinginan.” sanggahku.

Kalau wajib kenapa tidak semua wanita berhijab? Ibu juga tidak?” pertanyaan sederhana.

“Selalu alasan belum siap yang dikeluarkan, Pak. Padahal jika niat pasti bisa menyesuaikan. Dan… Siapa bilang tidak wajib? Emangnya Bapak pernah membaca Al-Qur’an? Aku berniat memakai hijab sesuai yang tertera di Al-Qur’an. Wajib,” jawabku mulai sinis dan marah kala itu. Jujur, aku hanya ingin Bapak sadar dan menjadi muslim sejati, bukan berniat durhaka.

“Bapak tidak izinkan. Banyak fenomena pakai hijab, tapi akhirnya nanti dilepas lagi. Apa gunanya?”

“Aku janji tidak akan seperti itu, diizinkan atau tidak, aku tetap akan berhijab tahun depan,” pungkasku sembari ngeloyor pergi.

Hari berganti. Bapak mempertanyakan keseriusanku untuk berhijab. Tanpa ragu akupun menjawab dengan sepenuh hati, iya. Dengan berat hati Bapak memberikan alasan yang cukup masuk akal, “Ibumu belum berhijab, nanti  malu kalau kamu berhijab duluan,”

Jauh sebelum ini, aku pernah bertanya kapan Ibu akan berhijab, jawabnya besok setelah siap dan bahkan setelah naik haji. Ah, sebuah ketidakpastian. Aku pun menjawab tidak bisa menunggu Ibu karena niatku sudah bulat.

Ketika hidayah sudah menyapa, haruskah kita tolak dan menyia-nyiakan kesempatan? Sebuah keajaiban ketika Ibu menyatakan akan ikut berhijab sepertiku, membersamaiku. Alhamdulillah yaa Rabb.

“Hmm.. Bapak sepertinya harus belajar mengaji darimu, Nak,” Bapak pun mulai melunak mendengar dan melihat keteguhanku, “Tapi kamu harus janji tetap konsisten dengan hijab itu,” pesan beliau mengiringi niatku itu. Lalu kusambut dengan anggukan dan senyum terindah.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *