Catatan Harian

Kegagalan Menikah, Mengantarkanku Empat Kali Hijrah

Aku pernah berada di zaman jahiliyah cukup lama, masa di mana aku suka berganti-ganti perempuan, minum-minuman keras, berjudi, dan banyak lagi yang lebih buruk dari itu. Sampai pada suatu ketika, Allah menegurku.

Perempuan yang hendak aku nikahi, meninggalkanku entah ke mana. Kegagalan dalam melangsungkan pernikahkan, telah menyakitiku terlalu dalam. Namun, rasa sakit itu yang mengantarkanku untuk berhijrah.

Waktu itu, aku tak tahu harus berlari ke mana dan meminta pertolongan siapa? Sempat hati ini bergejolak, antara memasrahkan semuanya kepada Allah, atau bermaksiat. Dan aku putuskan untuk hijrah aqidah. Aku mencoba mengenal dan mencari tahu, Dzat yang selama ini menghidupi, merawat, serta memiliki kuasa dalam diriku.

Aku mencari-Nya dalam shalat sambil memejamkan mata. Walaupun aku tahu, itu tidak disyariatkan dalam Islam. Aku juga melakukan takbir dengan waktu yang sangat lama. Setelah membaca Al-Fatihah dan surat pendek, aku tak berani melanjutkannya ke ruku’ sebelum ada sinyal dari Allah untuk melakukannya.

Fase ini berjalan selama tiga, empat bulan. Hampir setiap shalat, aku menangis. Sajadah pun berlumur air mata dan ingus. Hingga suatu malam, saat aku sedang shalat tahajud, ada secarik nota photocopy bertuliskan sinar terang, jatuh tepat di pungggungku, ketika aku sedang bersujud. Dan di sana tak ada seorang pun.

Kala itu, aku memiliki keyakinan, bahwa jatuhnya kertas itu bukanlah sebuah hal ketidaksengajaan, yang aku artikan sebagai pesan dari Allah. Aku merasa, itulah sebuah pertanda taubatku diterima-Nya. Setelahnya, aku merasakan proses transisi dalam diriku, dan aku meyakini bahwa Allah memang benar-benar ada.

Tak berhenti sampai di situ, setelah aku meyakini keberadaan Allah, aku pun melanjutkan pada tahap ke dua, yakni hijrah ibadah. Aku mulai belajar dan mendalami syariat Islam dan aturan-aturan shalat. Pada fase ini, aku banyak bertemu dengan ustad-ustad yang sering mengisi kajian di Masjid Al-Falah dan Baitur Razaq, Rungkut Surabaya. Di antaranya; Ustad Agung Cahyadi dan Ustad Ahmad Mudhofar.

Aku mencoba menapaki ketaatan syariat dari mereka. Pada 2014, aku memutuskan untuk bergabung menjadi Remaja Masjid (remas) Al-Akbar. Bahkan, di akhir tahun tersebut, tiba-tiba aku kembali memiliki niatan untuk menikah sesuai dengan syariat Islam. Kali ini, bukan untuk alasan lain, melainkan ibadah dan menyempurnakan agama.

Bahkan niatan itu kutulis, yang sebelumnya aku tak menyukai hal-hal semacam itu, sontak saja aku melakukannya. Kutuliskan menikah di tahun 2015, sebagai salah satu dari banyak hal yang ingin aku capai. Qodarullah, hal itu menjadi kenyataan.

Aku bertemu dengan seorang perempuan melalui broadcast BBM barcode. Iseng-iseng saja, waktu itu aku invite pinnya. Sebelumnya, sama sekali aku tak pernah bertemu dengannya, namun niatan untuk menikahinya, itu ada.

Lalu aku meminta izin pada ibu, untuk melangsungkan pernikahan pada Maret 2015. Ibu nampak ragu dan bertanya, “Sungguh kamu ingin melangsungkan pernikahan?” Hanya bila ibu merestui, jawabku.

Atas restu ibu, aku mengkhitbah Bella Rischa Herdianita, perempuan yang berhasil meraih hatiku, sejak pertama kali aku invite pin BBM-nya. Sebelum orang tuanya berangkat umrah, aku bersilaturahmi ke rumahnya. Pada kedua orang tuanya aku meminta izin, untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan putrinya, yang merujuk pada pernikahan. Dan aku diizinkan.

Lagi-lagi Allah menunjukkan kasih sayang-Nya padaku. Dalam perjalanan hijrahku menuju-Nya, Allah berikan sesuatu padaku yang jauh lebih baik, bahkan terlampau indah, yakni istriku. Ia adalah perempuan yang semasa hidupnya tak pernah berpacaran, sementara aku dulunya suka bergonta ganti perempuan. Subhanallah.

Selanjutnya, aku melangkah ke tahap tiga, hijrah fiqih. Aku mulai belajar tentang sunnah, seperti memajangkan jenggot dan isbal. Dalam masa ini, istriku tiba-tiba meminta izin untuk mengenakan cadar. Dengan memohon fatwah Allah, aku mengizinkannya bercadar.

Terakhir, aku mempelajari dan menjalankan hijrah muamalah. Aku pun melepaskan diri dan keluarga, dari riba’. Aku benar-benar menjaga apa yang masuk ke dalam diriku, istri dan anak. Tak hanya sekadar berkata itu halal, tapi benar-benar mencari yang halal. Pada proses ini, aku dan keluarga dilihat miskin secara keuangan oleh orang sekitar.

Setiap proses hijrah yang kulalui memiliki klimaksnya masing-masing. Namun, cobaan dalam hijrah muamalah yang paling terasa perjuangannya. Tak hanya kemerosotan financial yang terjadi karena proses itu, tapi juga berdampak pada diriku, istri dan anak. Namun, hal itu tak melemahkan perjalanan hijrahku.

Aku yakin, Allah sudah mengatur rezeki setiap hamba-Nya. Aku merasa segala hal itu akan selesai dengan ikhtaiar. Nyatanya usaha kita dalam mencapai dunia hanya bernilai satu persen, selebihnya adalah ridho dari Allah. Maka, dibanding mengejar dunia, lebih baik aku mengejar ridho-Nya. Salah satunya, melalui proses hijrah yang kulakukan.

Terkadang, manusia lupa, bahwa kita ini adalah hamba-Nya. Inilah yang membuat kita lalai beribadah dan memenuhi syariat-Nya. Acap kali kita lebih takut dengan panggilan pimpinan perusahaan, dibanding seruan beribadah dari-Nya.

Aku mengatakan seperti ini, karena dulu aku juga melakukannya. Merasa apa yang aku lakukan, sudah benar. Di samping itu, aku merasakan kekosongan batin dan jiwa. Ada sesuatu yang hilang dari diriku, kehambaanku pada-Nya. Namun setelah aku memutuskan berhijrah, sangat nyata terasa bahwa Allah itu benar-benar ada, mengatur dan memiliki semua yang ada di dalam kehidupan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *