Catatan Harian

Hanya Titipan

Pagi tadi, aku dikejutkan dengan kabar dari salah satu kawan. Ah, terlalu jauh kalau aku bilang kawan, baiklah kita sebut dia suadara perempuan dari Nabi Adam dan Hawa. Apa nggak terlalu lebay? Toh, juga baru kenal tiga tahun ini. Tidak! Sebutan itu layak dia dapatkan, setelah semua yang kita lalui. Oke, begini ceritanya.

Aku mengenalnya berbeda dari kebanyakan gadis, waktu itu dia belum berpasangan. Hampir setiap hari galau, dan tanya, “Kapan nikah? Siapa jodohku? Ah, nggak punya pacar, nggak ada yang diajak chat.” Jadilah aku dengan segala daya dan upaya menyulap hatinya. Kutanamkan padanya, bahwa nikah itu bukan perlombaan yang siapa cepat dia yang menang.

Sabar. Hanya kata itu yang mampu aku katakan berulang kali padanya. “Nanti juga Tuhan kasih, saat kamu sudah siap.” Dan akhirnya, dia pun menemukan pria yang siap bertanggung jawab atas dirinya. Hari pernikahan itu tiba. Terlihat sangat cantik dan bahagia terpancar dari wajahnya.

Aku pun berbisik, “Cepat berikan aku ponakan yang lucu.” Begitulah candaku saat menemuinya di atas pelaminan.

Tampak malu, dia mengaamiini doaku. Selang beberapa bulan setelah akad, dia sempat dinyatakan depresi. Lagi-lagi aku hanya mampu berkata, “Sabar, Tuhan mengujimu. Bebaskan pikiranmu, karena setelah ini kau temui kebahagiaan.”

Ajaib. Selang beberapa minggu, dia dinyatakan positif. Yeah, aku akan menjadi bibi. Soraku kegirangan sambil berbisik, “Jaga ponakanku baik-baik ya.”

Sayangnya, rasa bahagia menjadi seorang ibu itu hanya beberapa bulan saja melekat dalam dirinya. Belum genap tiga bulan, dia harus merelakan sang buah hati kembali pada Ilahi Rabbi. Dan hari ini, aku kembali berkata, “Sabar. Semua ini hanya titipan.”

 

Sidoarjo, 16 September 2019

Ayumungil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *