Catatan Harian

Hijrahlah, Allah Sesuai Prasangka Hamba-Nya

“Aku ingin berhijrah, tapi aku belum siap!”

Yaa, tekad yang sudah bulat di awal tiba-tiba sirna. Dan satu per satu keraguan itu hadir dalam hatiku. Ketakutan demi ketakutan terus membayangiku di setiap malam. Terlebih ketika aku mengingat setiap hal yang telah kulakukan di masa lalu.

Sungguh, aku telah menjadi orang yang merugi. Aku kembali mencari sesuatu yang bisa meneguhkan hatiku. Agar aku bisa tetap melanjutkan langkah ini. Meyakinkan hati, bahwa hijrah adalah jalan yang terbaik untukku.

Hingga suatu ketika mata ini terhenti pada sebuah hadis. Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Muslim 4832, 4851; Tirmidzi 3527, Ahmad 7115).

Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. artinya, jika seorang hamba bertaubat dengan taubatan nashuha (yang tulus), maka Allah pun akan menerima taubatnya. Dan jika yakin doanya akan dikabulkan, maka Allah akan mudah mengabulkan. Namun berbeda bila kondisinya sudah putus asa dan berburuk sangka pada Allah sejak awal.

Hadis ini telah mengajarkanku, bagaimana seharusnya seorang hamba yang selalu berhusnudzon pada Allah dan memiliki sikap roja’ (harap) pada-Nya. Karena sebagai seorang hamba, diri ini serba kekurangan dan Allah lah Rabb Yang Maha Sempurna.

Yaa, sebagai seorang hamba tentu diri ini tak mungkin bisa melakukan segalanya, sementara Allah Maha Memungkinkan. Itulah sebabnya, Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya, karena memang Dia memungkinkan segala sesuatu untuk terjadi dalam hidup kita.

Sebagai seorang hamba, diri ini pun tak berdaya dan hanya Allah lah yang dapat memberi daya kepada setiap hamba-Nya. Dan aku malu, telah meragukan rahmat-Nya. Sedangkan Allah akan memberi daya kepada seorang hamba atas setiap perkara yang sedang dihadapinya, asalkan ia berserah diri dan sabar dalam menghadapi ujian cinta dari-Nya.

Ilmu yang aku miliki sangatlah terbatas, sementara Allah Maha Mengetahui. Seorang hamba juga tidak memiliki suatu karunia, sedangkan Allah mampu mengaruniakan apapun dengan izin Nya. Aku hanya berharap, Allah berkenan mengaruniakan hidayah dan menyelipkan hikmah atas setiap ujian yang menyapaku.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).

Rasanya tubuh ini bergetar, setelah membaca hadis dan surah cinta-Nya. Darah ini berdesir semakin hebat. Yaa, aku yang selama ini terlalu pengecut. Aku tak lebih baik dari seorang pecundang. Bahkan aku mengutuk diriku sendiri, dengan menyebutnya sebagai seorang yang munafik.

Harusnya sejak awal aku tak perlu ragu untuk melangkah. Yang harus aku lakukan adalah yakin. Yakin pada janji Allah dan berhusnudzon pada-Nya. Tak seharusnya aku berprasangka pada-Nya, kecuali prasangka yang baik. Bodohnya lagi, aku terlalu cepat berputus asa dari rahmat-Nya.

“Astagfirullahaladzim…”

 

Sidoarjo, 26 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *