Catatan Harian

Mari Berbagi, Allah Tak Pernah Ingkar Janji

Semakin kita dekat dengan Allah, kehidupan di dunia rasanya akan semakin ajaib. Saya mengalaminya sendiri. Rasanya, banyak hal yang saya dapat di dunia ini, tidak dapat dihitung dengan matematika. Saya sangat percaya pada-Nya, dan benar apa yang pernah kita beri, akan kembali lagi pada diri sendiri.

Saat ini, saya bekerja di salah satu bank syariah, sebab saya memilih hijrah. Tempat saya bekerja ada di di Makasar, sementara keluarga ada di Sidoarjo. Namun saya niatkan pekerjaan itu untuk ibadah, jadi saya enjoy saja, dan insya Allah keluarga saya aman di sana.

Sebelum kerja di sana, saya sudah pernah menapaki dunia perbankan. Tetapi, bank tempat saya bekerja dulu, adalah bank konfensional. Di bank sana, hampir setiap transaksinya terdapat tambahan bunga. Jumlah bunganya, saya rasa tidak besar. Namun bagaimanapun, saya bekerja di sana dan memperoleh penghasilan dari usaha tersebut. Sehingga tidak menutup kemungkinan, gaji yang saya peroleh tiap bulan, merupakan hasil dari perputaran bunga, atau bahkan bunga dari transkasi itu sendiri.

Tak mau ambil resiko, saya putuskan utuk keluar dari pekerjaan. Walau saya tidak punya rencana, selanjutnya akan bekerja di mana. Ketimbang nafkah yang saya berikan kepada keluarga ada potensi tidak berkah, maka tahun 2016 lalu saya mundur dari pekerjaan di bank konfensional itu.

Selepas bekerja di sana, jelas ada sedikit gejolak dalam kehidupan saya dan keluarga. Keluarnya saya dari pekerjaan itu, membuat keluarga turut merasakan dampaknya. Jelas saja, pasca saya tidak bekerja, setiap bulannya sudah tidak ada lagi pemasukan tetap, bonus penghasilan, apalagi tunjangan. Selain itu, fasilitas kantor yang sempat saya gunakan, juga harus dilepaskan. Itu konsekuensinya.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu meresahkan kondisi tersebut, hanya saya khawatir akan nasib dan perasaan istri, serta tiga putri saya. Namun nyatanya ajaib, selama enam bulan menganggur, rasanya keluarga saya baik-baik saja. Kami masih bisa makan, membayar tagihan-tagihan rumah, dan biaya sekolah putri kami.

Bahkan, Allah masih memberi kami rezeki, untuk berlibur dan berbelanja. Padahal kalau diingat-ingat, setelah berhenti bekerja, saya lebih banyak di rumah dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan freelance, seperti menjadi narasumber seminar dan konsultan keuangan untuk bisnis mantan klien-klien saya.

Di masa-masa itu, saya jadi benar-benar meresapi apa arti dan manfaatnya berbagi. Saat kuliah, saya sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial di fakultas. Seperti mengadakan penggalangan dana, untuk membantu mereka yang secara ekonomi, termasuk tidak mampu. Saat bekerja, saya jadi lebih membiasakan diri menyisihkan sebagian harta, untuk sedekah.

Di awal, saya melakukannya karena itu adalah anjuran Islam, agama saya. Namun semakin ke sini, ternyata perintah untuk berbagi rezeki, memiliki banyak sekali fungsi. Sepengalaman saya, dengan berbagi hati kita akan menjadi lebih tenang. Selain itu, ternyata berbagi juga membuat hidup dunia ini, terasa mudah untuk dijalani.

Enam bulan tidak memiliki penghasilan tetap adalah masalah yang cukup besar bagi saya. Apalagi waktu itu saya sudah berkeluarga. Namun di masa sulit itu, pekerjaan ada saja yang datang tanpa diduga. Selain itu, walau pekerjaan yang datang adalah pekerjaan tidak tetap, saya dan keluarga merasa baik-baik saja. Rasanya tidak berbeda seperti saat saya masih memiliki pekerjaan tetap.

Peristiwa itu membuat saya membuktikan sendiri, ternyata benar berbagi sama sekali tidak membuat kita menjadi kekurangan. Sebab apa yang telah kita keluarkan, akan dikembalikan oleh Allah dengan nilai yang sama, bahkan seringkali lebih besar jumlahnya.

Allah telah berfirman dalam QS. Al Baqarah: 261. Maka, baiknya kita yakini saja, bahwa ganjaran itu akan tiba. Kalau tidak hari ini, mungkin esok hari, bahkan lusa. Satu hal yang pasti, Allah tidak pernah ingkar janji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *